Kisah ini adalah sebuah kisah urban legend yang sangat menakutkan
dari Negara Korea tentang seorang gadis yang di bunuh pada malam hari di
sebuah lift/elevator. Kasus ini sangat terkenal sebagai ''Pembunuhan di Lift''.
Ada seorang gadis Korea berusia 19 tahun berinisial "A" (maaf
nama asli tidak disebutkan) yang menghadiri sebuah acara di universitas
di kota besar Korea. Suatu malam, ia harus tetap berada di ruang
perpustakaan untuk menyelesaikan sebuah proyek dan membuat gadis itu
pulang pada larut malam.
Gadis itu tinggal di lantai 14 di sebuah gedung apartemen yang tidak
begitu jauh dari universitas, proyek yang ia kerjakan di universitas pun
telah selesai kemudian ia bergegas pulang dan sampai di sebuah
apartemen, ia berdiri di pintu masuk dan menekan tombol untuk memanggil
lift. Ketika lift tiba dan pintu lift terbuka ia pun langsung melangkah
masuk dan menekan tombol untuk menuju ke lantai yang ditujunya. Sesaat
pintu lift akan segera menutup, ada seorang pria yang sedang berlari
menuju lift, pria itu sungguh terlihat lelah dan mengulurkan tangannya
untuk menghentikan penutupan pintu. Kemudian, ia melangkah masuk ke lift
dan berdiri di sampingnya.
"Permisi, apakah anda tinggal di lantai 14?", tanya pria itu, sambil melihat tombol lift menyala.
"Ya", jawab gadis itu sambil terdiam.
"Ohh", kata pria itu sambil tersenyum padanya.
"Kebetulan sekali ya, saya tinggal di lantai 13 hanya beda 1 lantai." sahut pria itu sambil menekan tombol lift nomor 13.
Melalui jendela di pintu lift, gadis itu hanya menyaksikan lantai
yang sedang berlalu menuju ke atas, dan keduanya pun berdiri dalam
keadaan hening dan terdiam. Gadis itu melirik beberapa kali kepada pria
itu, kemudian mereka kebetulan berpapasan dalam satu pandangan, pria itu
tersenyum manis kepadanya, dan gadis itu merasa malu dan pipinya pun
memerah. Saat itu, lift berhenti di lantai 13, pintu lift pun terbuka
dan pria itu melangkah keluar dari lift.
"Sampai nanti ya.." kata pria itu sambil tersenyum.
"Ya dengan senang hati, sampai ketemu lagi," jawab gadis itu dengan nada riang.
Kemudian pintu lift itu menutup, dan tiba-tiba saja pria itu berbalik
dan menoleh kepadanya, dan menarik sebuah benda dari dalam jasnya,
benda itu adalah sebuah pisau dapur yang tajam. Dan pria itu berkata pada gadis itu, dengan suara mengancam.
"Hey! Lantai atas, aku tunggu kau!" kemudian pria itu tertawa seperti orang gila, dan pria itu berlari menuju tangga menuju lantai 14.
Gadis itu pun mulai merasa panik dan takut, kemudian ia memukul-mukul
tombol lift dengan keras dan berusaha untuk menghentikan laju lift,
tetapi usahanya itu pun tidak ada gunanya dan ia pun putus asa. Ketika
ia sampai di lantai 14 dan pintu lift pun telah terbuka, pria yang
membawa pisau itu pun sudah berdiri di sana, menunggunya, dan siap untuk
membunuhnya.
Di Negara Korea, para penduduknya mengatakan bahwa kasus ini bukan
hanya sekedar kisah urban legend tetapi kasus ini adalah sebuah KISAH
NYATA. Di kabarkan seorang gadis berinisial "A" itu ditemukan tewas,
ditikam sampai mati di dalam lift. Para penduduk mengatakan bahwa bagian
terburuk dalam kasus kematian lift ini adalah bukan kematian dari gadis
itu, melainkan penderitaan yang di alami gadis itu dengan ancaman
pembunuhan dalam menuju ke lantai 14, dan perasaan takut yang dipenuhi
dengan keputus asaan, terjebak dalam lift sambil memukul tombol lift
supaya berhenti, kemudian ia tahu bahwa ia akan mati di lantai 14. Para
penduduk telah mengklaim bahwa di dalam kasus ini ada suatu alasan
mengapa di setiap lift sekarang telah tersedia memiliki tombol berhenti.
Hanya Sepenggal Kisah....
Sabtu, 20 September 2014
Kamis, 15 November 2012
Saat Pertama
Hai semua, perkenalkan nama saya
Nadia. Saya tinggal didaerah KotaGede, Yogyakarta. Berikut ini kisah saya.
Saat
itu saya masih kelas 3 SD, saya mempunyai teman yang bernama Vania dan Lidya.
Vania dan Lidya adalah saudara kandung yang tinggal disebelah rumahku. Setiap hari
kami bermain bersama, bernyanyi bersama dirumahku maupun dirumah Vania dan
Lidya.
“Vania,
mau engga kalau kita maen boneka-bonekaan dirumah aku?” tanyaku kepada Vania
“Mau
dong, tapi nanti Mama kamu marah engga?” tanya Vania
“Engga
kok. Eh Lidya diajak juga ya.” Kataku
“Iya.”
Kata Vania
Aku
melihat Lidya sedang belarian didekat pohon.
“Eh
adek, kesini dong. Kita diajakin main sama Nadia boneka-bonekaan di rumahnya.” Kata
Vania
“Ya
udah deh aku mau.” Kata Lidya
Kami
semua lalu berjalan menuju rumahku. Perlahan-lahan kami menaiki tangga rumah
untuk sampai dikamarku. Tetapi Vania dan Lidya terlihat takut ketika sedang
berada di tangga.
“Kamu
kenapa? Kok takut?” tanyaku
“Engga
kenapa-kenapa kok.” Jawab Vania yang hanya tersenyum kecil.
Setelah
sampai dikamar, aku mengambil boneka lalu bermain bersama mereka.
“Eh
kalian kok engga ambil bonekanya?” tanyaku
“Aku
engga mau mainan boneka.” Kata Lidya
“Ya
udah kita nyanyi-nyanyi aja ya?” tanyaku
“Ayo….”
Jawab mereka berdua
Kami
semua lalu bernyanyi bersama. Lagu Balonku ada Lima, Potong Bebek Angsa, dll
sudah kami nyanyikan bersama.
“Nadia….
Jangan berisik dong, sekarang kamu tidur aja ya dari pada berisik begitu.” Kata
Mama yang saat itu sedang berada dibawah
“Ya
udah Nadia tidur.” Kataku
“Yah
kamu udah disuruh tidur.” Kata Vania dengan raut wajah yang sedikit kecewa
“Kalian
tidur bareng sama aku aja.” Kataku
“Beneran?” tanya Vania
“Iya,
sekarang tidur yuk dari pada dimarahin Mama lagi.” Jawabku
Kami
bertiga akhirnya tidur bersama dalam satu tempat tidur. Beberapa jam kemudian
aku terbangun dari tidurku. Tetapi saat kulihat sekitar tempat tidurku, Vania dan
Lidya sudah tidak ada. Aku mencari mereka kemana-mana tetapi tetap tidak
ketemu. Lalu aku bertanya kepada Mama
“Mama,
tadi liat Vania sama Lidya ngga?” tanyaku
“Vania
sama Lidya siapa?” tanya Mama balik
“Itu
temen Nadia yang tinggal disebelah rumah.” Jawabku
“Kamu
ini aneh banget sih, orang disebelah rumah kita masih tanah lapang dan belum
berdiri rumah kok.” Kata Mama
“Engga,
itu ada rumah. Rumahnya bagus banget. Masa engga tau sih.” Kataku
Tiba-tiba
Vania dan Lidya berada disebelah Mama.
“Itu
dia Vania sama Lidya baru disamping mama.” Kataku
“Hah?
Orang disamping Mama engga ada siapa-siapa kok.” Kata Mama heran
“Itu
ada Vania sama Lidya lagi senyam senyum terus liatin Mama.” Kataku
Saat
itu aku heran sekali kenapa hanya aku yang bisa melihat Vidia dan Lidya. Aku lalu
pergi menuju kamar Kak Ilham untuk menanyakan apakah dia melihat mereka juga.
“Kakak,
kakak liat Vania sama Lidya engga dideket pintu?” tanyaku
“Emang
mereka siapa? Dimana?” tanya Kak Ilham balik
“Masa
engga tau sih, mereka itu temen-temennya Nadia dari dulu.” Kataku kesal
“Kakak
engga liat tuh.” Kata Kak Ilham
Aku
semakin kesal dan bertanya kepada Vania dan Lidya
“Kalian
ini sebenernya siapa sih kok mama sama kak Ilham engga bisa liat kalian.” Tanyaku
Tetapi
Vania dan Lidya hanya tersenyum saja.
“Kalian
ini ditanyain engga dijawab.” Kataku
“Nadia
sedang ngomong sama siapa?” tanya Mama
“Lagi
ngomong sama Vania dan Lidya ma, tapi mereka engga jawab.” Kataku tambah kesal
“Memangnya
mereka bentuknya seperti apa?” tanya Mama
“Ya
seperti kita ini tapi lebih putih.” Jawabku
“Umur
mereka berapa?” tanya Mama lagi
“Ya
seumuran sama Nadia.” Kataku dengan polosnya
Mama
yang menyadari keanehan dari diriku lalu membawa aku ketempat salah satu teman
Mama yang biasa aku panggil Tante Lilis.
“Loh
ada apa kok tumben datang kemari? Tanya Tante Lilis
“Ini
ada yang aneh sama Nadia. Coba Nadia ceritakan kepada Tante Lilis.” Kata Mama
“Kan
aku punya temen namanya Vania dan Lidya, aku sama mereka itu selalu bermain
bersama, kalau ada orang jahat yang bentuknya serem mereka juga selalu
melindungi aku, terus kalau kemana-mana mereka selalu ikut. Mereka sekarang
juga lagi didekernya Om-om kyai yang ada dibelakangnya tante.” Kataku
“Ohhh,
anakmu ini memang istimewa, engga perlu cemas dan takut.” Kata tante Lilis
“Maksudnya
istimewa?” tanya Mama
“Nadia
ini bisa melihat makhluk dari alam lain sama seperti saya, kedua anak itu
merupakan ‘pendamping’ dari Nadia. Apakah sebelumnya Nadia pernah mengalami
penyakit aneh?” tanya tante Lilis
“Pernah
sih, kata dokter dia sehat tapi badan Nadia panas dingin.” Kata Mama
“Ya
sudah, sekarang Nadia ikut tante ke deket kolam itu ya.” Kata tante Lilis
Aku,
Mama dan Tante Lilis lalu berjalan menuju kolam yang berada didekat rumah tante
Lilis. Betapa kagetnya aku saat itu, aku melihat ada sesosok perempuan sedang
duduk di pinggir kolam.
“Tante
tante, itu orang lagi ngapain kok duduk disitu?” tanyaku
“Engga
kenapa-kenapa kok, Nadia bisa liat kan?” tanya Tante Lilis balik
“Bisa
dong.” Jawabku
Tiba-tiba
aku melihat sekilas gambaran tentang Mama dipikiranku.
“Awas
mama nanti jatuh.” Teriakku
Beberapa
saat kemudian Mama terjatuh karena tersandung batu. Aku dan Tante Lilis lalu
menolongnya.
“Anak
kamu memang luar biasa, selain bisa melihat makhluk dari alam lain dia juga
bisa melihat masa depan.” Kata tante Lilis.
Terungkap
sudah bahwa aku ini mempunyai kemampuan untuk melihat makhluk lain dan mampu
melihat masa depan. Hari-hari berikutnya aku, Vania dan Lidya masih bermain
bersama layaknya manusia pada umumnya walaupun aku sering diejek gila karena
sering berbicara sendiri. Padahal saat itu aku sedang berbicara dengan makhluk
lain yang hidup berdampingan dengan kita.
Selesai…….
Minggu, 11 November 2012
Kisah 'Green Lady'
Cerita kali ini bukan
hasil karangan dari cerita saya. Tetapi saya akan menceritakan tentang kisah dari “Green
Lady”.
Green
Lady merupakan kisah hantu sekaligus urban legend yang hidup di Burlington,
Connecticut. Kisah tentang sebuah pemakaman berhantu yang digentayangi hantu
wanita yang berwarna hijau tewas karena tenggelam di sebuah rawa.
***
Kisah ini dimulai dengan seorang wanita bernama Elizabeth yang tinggal bersama suaminya di sebuah rumah di samping pemakaman. Selama musim dingin yang sangat panjang, suaminya pergi meninggalkan rumah untuk mendapatkan persediaan makanan tetapi pada saat itu tiba-tiba badai datang secara mendadak dan membuat cuaca sangat buruk, ia pun menunda selama beberapa jam disebuah pondok sekitar pemakaman sampai cuaca buruk menghilang.
Sementara itu Elizabeth sang istri sangat khawatir dengan suaminya di luar sana dan ia terpaksa mengambil langkah yang sangat fatal, ia memberanikan diri keluar dari rumah dalam keadaan cuaca yang buruk dan berharap menemukan suaminya di suatu tempat. Saat itu ia pun tersesat di dalam hutan yang berdekatan dengan sebuah rawa dan ia berjalan menelusuri rawa. Saat ia menelusuri rawa, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh masuk ke dalam rawa kemudian ia terjebak oleh tanaman yang mengikat tubuhnya di dalam rawa, ia pun menangis dan meronta-ronta meminta pertolongan dan berharap ada yang menolongnya.
Kemudian di dalam pondok suaminya memberatkan diri dan berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan dan ia pun kembali ke perjalanan pulang ke rumah, ketika ia tiba di dalam hutan ia mendengar sayup-sayup suara rintihan meminta pertolongan
***
Kisah ini dimulai dengan seorang wanita bernama Elizabeth yang tinggal bersama suaminya di sebuah rumah di samping pemakaman. Selama musim dingin yang sangat panjang, suaminya pergi meninggalkan rumah untuk mendapatkan persediaan makanan tetapi pada saat itu tiba-tiba badai datang secara mendadak dan membuat cuaca sangat buruk, ia pun menunda selama beberapa jam disebuah pondok sekitar pemakaman sampai cuaca buruk menghilang.
Sementara itu Elizabeth sang istri sangat khawatir dengan suaminya di luar sana dan ia terpaksa mengambil langkah yang sangat fatal, ia memberanikan diri keluar dari rumah dalam keadaan cuaca yang buruk dan berharap menemukan suaminya di suatu tempat. Saat itu ia pun tersesat di dalam hutan yang berdekatan dengan sebuah rawa dan ia berjalan menelusuri rawa. Saat ia menelusuri rawa, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh masuk ke dalam rawa kemudian ia terjebak oleh tanaman yang mengikat tubuhnya di dalam rawa, ia pun menangis dan meronta-ronta meminta pertolongan dan berharap ada yang menolongnya.
Kemudian di dalam pondok suaminya memberatkan diri dan berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan dan ia pun kembali ke perjalanan pulang ke rumah, ketika ia tiba di dalam hutan ia mendengar sayup-sayup suara rintihan meminta pertolongan
"Tolong…tolong…..!
Siapapun disana tolonglah aku!!!"
Ia pun berlari dan mencari sumber dari suara
tersebut. Suara-suara itu pun semakin dekat dan ia pun terus berlari, ketika ia
sampai di sebuah rawa, ia pun sangat kaget dan histeris bahwa ia melihat
istrinya sedang meronta-ronta menangis meminta pertolongan di dalam rawa. Sang
suami hanya bisa menangis dan histeris, ia pun tidak berani untuk menolongnya,
ia hanya berdiri dan menyaksikan istrinya tenggelam semakin dalam, ia pun tega
mengabaikan jeritan istrinya meminta pertolonganya.Pada akhirnya, air rawa pun
perlahan-lahan naik ke atas kepala sang istri dan suaranya yang penuh dengan
pilu itu pun tiba-tiba menghilang dalam keheningan, Elizabeth pun tenggelam
masuk ke dalam rawa.
Sejak saat itu, seorang saksi melaporkan bahwa ia melihat sesosok hantu dari seorang wanita yang sedang menangis di sekitar rawa yang dikelilingi oleh kabut hijau. Penduduk sekitar pun berpendapat bahwa penampakan sesosok hantu di sekitar rawa itu adalah Elizabeth yang pergi meninggalkan rumahnya dalam keadaan cuaca buruk untuk mencari suaminya.
Beberapa tahun kemudian suami dari Elizabeth meninggal karena sakit keras dan ia pun di semayamkan tepat di pemakaman disamping rumahnya. Saat itu ada pasangan muda yang sedang mengambil gambar di sekitar makam, kemudian mereka sangat terkejut melihat hasil foto yang mereka dapat, di dalam foto itu terdapat sebuah kabut berwarna hijau tepat di atas salah satu makam. Ketika mereka mencari informasi dari makam tersebut, bahwa foto yang berhasil mereka tangkap adalah makam di mana makam sang suami Elizabeth yang di semayamkan, dan kabut hijau itu adalah penampakan dari hantu Elizabeth yang menghantui makam suaminya.
Sebuah cahaya misterius sering terlihat di sekitar rawa. Mereka yang telah melihat cahaya-cahaya itu menyebutnya sebagai lampu atau lentera. Penduduk setempat percaya bahwa cahaya itu adalah sebuah lentera yang di bawa oleh Elizabeth untuk mencari suaminya yang pergi mencari persediaan makanan. Ada sekelompok pelajar sedang pulang sekolah melewati sebuah rawa di dekat hutan, mereka mengatakan bahwa mereka telah diusir oleh seorang pria misterius, bahwa pria itu melarang mereka untuk melewati rawa ini.
Jika melintasi pemakaman di Burlington, Connecticut dapat melihat sebuah potret lukisan yang tergantung di salah satu jendela rumah yang tidak berpenghuni. Penduduk sekitar mengatakan bahwa potret lukisan itu adalah sebuah potret dari Wanita Hijau atau Green Lady. Penduduk setempat mengatakan bahwa meskipun rumah tua yang sudah lama tidak ditempati, lukisan itu masih tetap terawat dan tetap terlihat baru.
Sejak saat itu, seorang saksi melaporkan bahwa ia melihat sesosok hantu dari seorang wanita yang sedang menangis di sekitar rawa yang dikelilingi oleh kabut hijau. Penduduk sekitar pun berpendapat bahwa penampakan sesosok hantu di sekitar rawa itu adalah Elizabeth yang pergi meninggalkan rumahnya dalam keadaan cuaca buruk untuk mencari suaminya.
Beberapa tahun kemudian suami dari Elizabeth meninggal karena sakit keras dan ia pun di semayamkan tepat di pemakaman disamping rumahnya. Saat itu ada pasangan muda yang sedang mengambil gambar di sekitar makam, kemudian mereka sangat terkejut melihat hasil foto yang mereka dapat, di dalam foto itu terdapat sebuah kabut berwarna hijau tepat di atas salah satu makam. Ketika mereka mencari informasi dari makam tersebut, bahwa foto yang berhasil mereka tangkap adalah makam di mana makam sang suami Elizabeth yang di semayamkan, dan kabut hijau itu adalah penampakan dari hantu Elizabeth yang menghantui makam suaminya.
Sebuah cahaya misterius sering terlihat di sekitar rawa. Mereka yang telah melihat cahaya-cahaya itu menyebutnya sebagai lampu atau lentera. Penduduk setempat percaya bahwa cahaya itu adalah sebuah lentera yang di bawa oleh Elizabeth untuk mencari suaminya yang pergi mencari persediaan makanan. Ada sekelompok pelajar sedang pulang sekolah melewati sebuah rawa di dekat hutan, mereka mengatakan bahwa mereka telah diusir oleh seorang pria misterius, bahwa pria itu melarang mereka untuk melewati rawa ini.
Jika melintasi pemakaman di Burlington, Connecticut dapat melihat sebuah potret lukisan yang tergantung di salah satu jendela rumah yang tidak berpenghuni. Penduduk sekitar mengatakan bahwa potret lukisan itu adalah sebuah potret dari Wanita Hijau atau Green Lady. Penduduk setempat mengatakan bahwa meskipun rumah tua yang sudah lama tidak ditempati, lukisan itu masih tetap terawat dan tetap terlihat baru.
SELESAI
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Jumat, 09 November 2012
Yuki Onna (Legenda Hantu Wanita Salju di Jepang)
Kali ini saya
akan menceritakan tentang kisah dari Yuki Onna :)
Kisah Yuki Onna (Wanita Salju) merupakan salah satu cerita hantu klasik di Jepang, yang sudah sering diangkat dalam bentuk Opera, bahkan pernah dibuat dalam bentuk film klasik. Cerita hantu tidak klasik ditandai dengan adegan berdarah-darah, namun lebih merupakan cerita yang yang diisi tokoh manusia dan hantu yang melibatkan percintaan, kesedihan yang dalam dan tragedi.
Kisah Yuki Onna (Wanita Salju) merupakan salah satu cerita hantu klasik di Jepang, yang sudah sering diangkat dalam bentuk Opera, bahkan pernah dibuat dalam bentuk film klasik. Cerita hantu tidak klasik ditandai dengan adegan berdarah-darah, namun lebih merupakan cerita yang yang diisi tokoh manusia dan hantu yang melibatkan percintaan, kesedihan yang dalam dan tragedi.
Cerita
dimulai dari dua orang penebang kayu bernama Mosaku dan Minokichi yang hidup di
daerah provinsi Musashi (terletak di antara Tokyo dan Saitama), Mosaku adalah
seorang pria yang berada di usia senja, sementara muridnya , Minokichi adalah
seorang pemuda tegap berumur 18 tahun. Setiap hari mereka berangkat pagi-pagi
sekali ke sebuah hutan yang jaraknya 5 mil dari desa mereka. Di antara desa
mereka dan hutan yang dituju ada sebuah sungai besar yang beraliran deras.
Begitu derasnya arus sungai tersebut sehingga tidak ada jembatan yang kuat
menahan arus (jembatan yang ada selalu rusak akibat terjangan arus deras).
Siapapun yang ingin menyebrangi sungai harus melewatinya dengan bantuan kapal
penyebrang kecil.
Suatu hari Mosaku dan Minokichi sedang dalam perjalan pulang. Ketika itu cuaca begitu dingin dan mulai turun badai salju. Saat sampai di di tepi sungai, mereka menemukan bahwa si pengayuh perahu yang menyebrangkan mereka telah pulang ke rumah dan meninggalkan perahunya karena cuaca buruk. Sadar bahwa mereka tidak mungkin menyebrangi sungai, mereka memutuskan bermalam di pondok sementara si pengayuh perahu. Pondok itu benar-benar sederhana, hanya terdiri dari sebuah ruangan tanpa jendela yang berisi dua buah Tatami, tanpa perabotan apapun.
Mosaku dan Minokichi yang sudah lelah segera menutup pintu agar salju tidak masuk ke dalam pondok, kemudian beristirahat. Mereka merasa cukup hangat dan nyaman sehingga Mosaku yang lanjut usia tak lama berbaring langsung tertidur pulas, sementara Minokichi yang masih muda termenung mendengar suara angin yang menderu yang disertai arus sungai yang bertambah deras. Badai tidak mereda dan udara malah bertambah dingin, namun setelah bersusah payah akhirnya Minokichi tertidur juga. Entah telah berapa lama Minokichi tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena merasakan butir-butir salju yang lembut di wajahnya. Ternyata pintu pondok yang mereka diami telah terbuka dengan paksa.
Minokichi melihat seorang wanita dalam pondok, wanita yang putih seperti salju dan memancarkan cahaya seperti salju (Yuki-Akari) sedang membungkuk di atas Mosaku. Ia tengah meniupkan nafasnya yang dingin menyerupai asap putih kepada Mosaku. Minokichi benar-benar terkejut dan ketakutan, ia ingin menjerit namun tak ada sebuah suara pun yang keluar dari mulutnya. Saat itulah sang wanita misterius itu beradu pandang dengannya, ia mendekatkan wajahnya pada Minokichi. Dalam ketakutan yang amat sangat, Minokichi merasakan bahwa wanita yang berada di hadapannya adalah seorang wanita yang amat cantik, walaupun sorot matanya membuat tubuhnya gemetar dalam ketakutan.
Wanita itu terus menatap Minokichi dan tiba-tiba tersenyum dan berkata,
Suatu hari Mosaku dan Minokichi sedang dalam perjalan pulang. Ketika itu cuaca begitu dingin dan mulai turun badai salju. Saat sampai di di tepi sungai, mereka menemukan bahwa si pengayuh perahu yang menyebrangkan mereka telah pulang ke rumah dan meninggalkan perahunya karena cuaca buruk. Sadar bahwa mereka tidak mungkin menyebrangi sungai, mereka memutuskan bermalam di pondok sementara si pengayuh perahu. Pondok itu benar-benar sederhana, hanya terdiri dari sebuah ruangan tanpa jendela yang berisi dua buah Tatami, tanpa perabotan apapun.
Mosaku dan Minokichi yang sudah lelah segera menutup pintu agar salju tidak masuk ke dalam pondok, kemudian beristirahat. Mereka merasa cukup hangat dan nyaman sehingga Mosaku yang lanjut usia tak lama berbaring langsung tertidur pulas, sementara Minokichi yang masih muda termenung mendengar suara angin yang menderu yang disertai arus sungai yang bertambah deras. Badai tidak mereda dan udara malah bertambah dingin, namun setelah bersusah payah akhirnya Minokichi tertidur juga. Entah telah berapa lama Minokichi tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena merasakan butir-butir salju yang lembut di wajahnya. Ternyata pintu pondok yang mereka diami telah terbuka dengan paksa.
Minokichi melihat seorang wanita dalam pondok, wanita yang putih seperti salju dan memancarkan cahaya seperti salju (Yuki-Akari) sedang membungkuk di atas Mosaku. Ia tengah meniupkan nafasnya yang dingin menyerupai asap putih kepada Mosaku. Minokichi benar-benar terkejut dan ketakutan, ia ingin menjerit namun tak ada sebuah suara pun yang keluar dari mulutnya. Saat itulah sang wanita misterius itu beradu pandang dengannya, ia mendekatkan wajahnya pada Minokichi. Dalam ketakutan yang amat sangat, Minokichi merasakan bahwa wanita yang berada di hadapannya adalah seorang wanita yang amat cantik, walaupun sorot matanya membuat tubuhnya gemetar dalam ketakutan.
Wanita itu terus menatap Minokichi dan tiba-tiba tersenyum dan berkata,
“Aku
ingin memperlakukanmu sama seperti orang lain, tapi aku kasihan padamu. Kau,
masih muda, begitu tampan, Minokichi. Aku tidak akan menyakitimu tapi jika kau
memberitahu siapapun termasuk ibumu tentang apa yang terjadi malam ini… maka
aku akan membunuhmu! Ingat apa yang telah kukatakan ini.”
Seusai
wanita salju itu berkata, ia meninggalkan Minokichi sendirian. Mengira bahwa
itu hanyalah mimpi, Minokichi segera bangun dan melihat keluar namun ia tidak
melihat siapapun atau apapun. Sambil menutup pintu ia bertanya-tanya apakah
bukan angin yang membuka pintu pondok tadi. Ia memanggil Mosaku namun tidak ada
jawaban. Minokichi mengulurkan tangan untuk menyentuh Mosaku dan tanpa sengaja
ia menyentuh wajah Mosaku, dan ternyata wajahnya telah membeku. Mosaku telah
meninggal.
Ketika fajar tiba, badai pun berakhir dan si pengayuh perahu menemukan Minokichi yang tergeletak pingsan di samping Mosaku yang telah meninggal. Ia membawa keduanya menyebrang, lalu menguburkan jenazah Mosaku. Sementara Minokichi dibawa pulang ke rumahnya. Setelah sembuh, Minokichi tidak dapat langsung melupakan kejadian yang telah ia alami. Ia dihantui oleh kematian Mosaku, namun ia bersikeras untuk menceritakan cerita hantu itu pada siapapun, karena ia tidak ingin kehilangan nyawanya. Lama berselang, Minokichi baru berani kembali pada pekerjaan sehari-harinya, menebang kayu, membelahnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu menjual kayu tersebut ke pasar dengan bantuan ibunya.
Pada musim dingin tahun berikutnya, Minokichi sedang berada dalam perjalanan pulang melalui jalan setapak di hutan, saat ia berpapasan dengan seorang gadis yang amat cantik, berkulit putih indah, yang hendak melalui jalan yang sama. Minokichi pun menyapa gadis itu dan tanpa disangka gadis itu menjawab dengan suara yang menurut Minokichi adalah suara yang paling merdu didengarnya. Mereka pun mulai berjalan bersama dan bercakap-cakap. Si gadis menceritakan bahwa ia bernama O-Yuki, ia telah kehilangan kedua orangtua, dan untuk menyambung hidupnya ia akan pergi ke Yedo (Edo atau Tokyo) untuk mencari kerabatnya agar dapat membantu mencarikannya pekerjaan sebagai pelayan.
Entah apa yang dirasakan Minokichi, namun rasanya gadis itu nampaknya makin cantik dimatanya. Minokichi pun mulai merasa suka pada gadis itu, sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya apakah gadis itu sudah memiliki pasangan. Gadis itu tertawa sambil mengatakan bahwa ia belum memiliki pasangan atau kekasih. Ia pun balik bertanya apakah Minokichi telah memiliki pasangan, dan Minokichi menjawab bahwa ia pun belum memilikinya. Setelah pernyataan ini maka kedua muda-mudi ini tidak berbicara lagi sampai mereka tiba di desa tempat tinggal Minokichi. Namun dalam hati masing-masing telah tumbuh rasa saling menyukai. Maka Minokichi mengundang O-Yuki untuk singgah dan beristirahat di rumahnya. O-Yuki ternyata bukan hanya gadis cantik, namun juga berkelakuan baik. Ibu Minokichi pun tak butuh waktu lama untuk menyukainya. Sampai ia membujuk agar O-Yuki mau menunda perjalanannya ke Yedo. Pada akhirnya O-Yuki tidak pernah melanjutkan perjalanannya ke Yedo, melainkan menetap di desa itu dan tinggal bersama Minokichi dan ibunya, sebagai istri dan menantu.
Lima tahun kemudian ibu Minokichi meninggal, O-Yuki tetap bersama-sama Minokichi, bahkan ia telah melahirkan 10 orang anak lelaki dan perempuan bagi Minokichi. Semuanya tampan dan cantik, serta memiliki kulit putih seindah ibunya. Banyak penduduk desa yang mengagumi O-Yuki. Kebanyakan petani tampak tua setelah melahirkan anak, namun O-Yuki yang telah menjadi ibu 10 anak tetap terlihat cantik. Secantik saat pertama kedatangannya di desa, mereka.
Suatu malam setelah anak-anak tidur, O-Yuki menjahit dibantu dengan sebuah cahaya dari lampu kertas. Minokichi yang sedang menatapnya, tiba-tiba berkata,
Ketika fajar tiba, badai pun berakhir dan si pengayuh perahu menemukan Minokichi yang tergeletak pingsan di samping Mosaku yang telah meninggal. Ia membawa keduanya menyebrang, lalu menguburkan jenazah Mosaku. Sementara Minokichi dibawa pulang ke rumahnya. Setelah sembuh, Minokichi tidak dapat langsung melupakan kejadian yang telah ia alami. Ia dihantui oleh kematian Mosaku, namun ia bersikeras untuk menceritakan cerita hantu itu pada siapapun, karena ia tidak ingin kehilangan nyawanya. Lama berselang, Minokichi baru berani kembali pada pekerjaan sehari-harinya, menebang kayu, membelahnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu menjual kayu tersebut ke pasar dengan bantuan ibunya.
Pada musim dingin tahun berikutnya, Minokichi sedang berada dalam perjalanan pulang melalui jalan setapak di hutan, saat ia berpapasan dengan seorang gadis yang amat cantik, berkulit putih indah, yang hendak melalui jalan yang sama. Minokichi pun menyapa gadis itu dan tanpa disangka gadis itu menjawab dengan suara yang menurut Minokichi adalah suara yang paling merdu didengarnya. Mereka pun mulai berjalan bersama dan bercakap-cakap. Si gadis menceritakan bahwa ia bernama O-Yuki, ia telah kehilangan kedua orangtua, dan untuk menyambung hidupnya ia akan pergi ke Yedo (Edo atau Tokyo) untuk mencari kerabatnya agar dapat membantu mencarikannya pekerjaan sebagai pelayan.
Entah apa yang dirasakan Minokichi, namun rasanya gadis itu nampaknya makin cantik dimatanya. Minokichi pun mulai merasa suka pada gadis itu, sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya apakah gadis itu sudah memiliki pasangan. Gadis itu tertawa sambil mengatakan bahwa ia belum memiliki pasangan atau kekasih. Ia pun balik bertanya apakah Minokichi telah memiliki pasangan, dan Minokichi menjawab bahwa ia pun belum memilikinya. Setelah pernyataan ini maka kedua muda-mudi ini tidak berbicara lagi sampai mereka tiba di desa tempat tinggal Minokichi. Namun dalam hati masing-masing telah tumbuh rasa saling menyukai. Maka Minokichi mengundang O-Yuki untuk singgah dan beristirahat di rumahnya. O-Yuki ternyata bukan hanya gadis cantik, namun juga berkelakuan baik. Ibu Minokichi pun tak butuh waktu lama untuk menyukainya. Sampai ia membujuk agar O-Yuki mau menunda perjalanannya ke Yedo. Pada akhirnya O-Yuki tidak pernah melanjutkan perjalanannya ke Yedo, melainkan menetap di desa itu dan tinggal bersama Minokichi dan ibunya, sebagai istri dan menantu.
Lima tahun kemudian ibu Minokichi meninggal, O-Yuki tetap bersama-sama Minokichi, bahkan ia telah melahirkan 10 orang anak lelaki dan perempuan bagi Minokichi. Semuanya tampan dan cantik, serta memiliki kulit putih seindah ibunya. Banyak penduduk desa yang mengagumi O-Yuki. Kebanyakan petani tampak tua setelah melahirkan anak, namun O-Yuki yang telah menjadi ibu 10 anak tetap terlihat cantik. Secantik saat pertama kedatangannya di desa, mereka.
Suatu malam setelah anak-anak tidur, O-Yuki menjahit dibantu dengan sebuah cahaya dari lampu kertas. Minokichi yang sedang menatapnya, tiba-tiba berkata,
“Melihat
kau menjahit dengan pantulan cahaya di wajahmu, aku teringat suatu hal aneh
yang terjadi saat aku masih berusia 18 tahun. Kala itu aku melihat seorang
wanita yang secantik dan seputih dirimu… dan ia memang mirip denganmu…"
Tanpa menghentikan pekerjaannya, O-Yuki bertanya,
Tanpa menghentikan pekerjaannya, O-Yuki bertanya,
”Ceritakanlah
padaku, dimana kau bertemu dengannya?” lalu Minokichi mulai bercerita tentang
Mosaku dan pengalamannya di pondok pengayuh perahu.
“Entah
itu sebuah mimpi atau bukan,tapi saat-saat itulah aku pernah melihat orang secantik
engkau. Tentu saja ia pasti bukan manusia dan aku sangat takut padanya. Hingga
sekarang pun aku tidak yakin apakah yang aku lihat itu mimpi atau memang
benar-benar seorang wanita salju.”
O-Yuki langsung melemparkan jahitannya. Ia mendekati suaminya dan berseru,
O-Yuki langsung melemparkan jahitannya. Ia mendekati suaminya dan berseru,
“Itu
adalah aku! Bukankah aku telah mengatakan bahwa aku akan membunuhmujika cerita
itu pernah keluar dari mulutmu. Sekarang, demi anak-anak kita…” O-Yuki tetap
berteriak namun suaranya menjadi penuh kesedihan
“Jagalah
anak-anak kita, karena jika kamu tidak melakukannya, maka aku akan melakukan
hal yang pernah aku katakan padamu…”
Minokichi tidak sempat berkata apa-apa. O-Yuki mulai tidak terlihat dan kemudian menguap menjadi butir-butir salju yang halus,yang menghilang melalui cerobong asap. Sejak saat itu, ia tidak pernah terlihat lagi. Inilah legenda cerita hantu Yuki Onna.
Minokichi tidak sempat berkata apa-apa. O-Yuki mulai tidak terlihat dan kemudian menguap menjadi butir-butir salju yang halus,yang menghilang melalui cerobong asap. Sejak saat itu, ia tidak pernah terlihat lagi. Inilah legenda cerita hantu Yuki Onna.
SELESAI
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Langganan:
Postingan (Atom)