Kamis, 15 November 2012

Saat Pertama



             Hai semua, perkenalkan nama saya Nadia. Saya tinggal didaerah KotaGede, Yogyakarta. Berikut ini kisah saya.
            Saat itu saya masih kelas 3 SD, saya mempunyai teman yang bernama Vania dan Lidya. Vania dan Lidya adalah saudara kandung yang tinggal disebelah rumahku. Setiap hari kami bermain bersama, bernyanyi bersama dirumahku maupun dirumah Vania dan Lidya.
            “Vania, mau engga kalau kita maen boneka-bonekaan dirumah aku?” tanyaku kepada Vania
            “Mau dong, tapi nanti Mama kamu marah engga?” tanya Vania
            “Engga kok. Eh Lidya diajak juga ya.” Kataku
            “Iya.” Kata Vania
            Aku melihat Lidya sedang belarian didekat pohon.
            “Eh adek, kesini dong. Kita diajakin main sama Nadia boneka-bonekaan di rumahnya.” Kata Vania
            “Ya udah deh aku mau.” Kata Lidya
            Kami semua lalu berjalan menuju rumahku. Perlahan-lahan kami menaiki tangga rumah untuk sampai dikamarku. Tetapi Vania dan Lidya terlihat takut ketika sedang berada di tangga.
            “Kamu kenapa? Kok takut?” tanyaku
            “Engga kenapa-kenapa kok.” Jawab Vania yang hanya tersenyum kecil.
            Setelah sampai dikamar, aku mengambil boneka lalu bermain bersama mereka.
            “Eh kalian kok engga ambil bonekanya?” tanyaku
            “Aku engga mau mainan boneka.” Kata Lidya
            “Ya udah kita nyanyi-nyanyi aja ya?” tanyaku
            “Ayo….” Jawab mereka berdua
            Kami semua lalu bernyanyi bersama. Lagu Balonku ada Lima, Potong Bebek Angsa, dll sudah kami nyanyikan bersama.
            “Nadia…. Jangan berisik dong, sekarang kamu tidur aja ya dari pada berisik begitu.” Kata Mama yang saat itu sedang berada dibawah
            “Ya udah Nadia tidur.” Kataku
            “Yah kamu udah disuruh tidur.” Kata Vania dengan raut wajah yang sedikit kecewa
            “Kalian tidur bareng sama aku aja.” Kataku
            “Beneran?”  tanya Vania
            “Iya, sekarang tidur yuk dari pada dimarahin Mama lagi.” Jawabku
            Kami bertiga akhirnya tidur bersama dalam satu tempat tidur. Beberapa jam kemudian aku terbangun dari tidurku. Tetapi saat kulihat sekitar tempat tidurku, Vania dan Lidya sudah tidak ada. Aku mencari mereka kemana-mana tetapi tetap tidak ketemu. Lalu aku bertanya kepada Mama
            “Mama, tadi liat Vania sama Lidya ngga?” tanyaku
            “Vania sama Lidya siapa?” tanya Mama balik
            “Itu temen Nadia yang tinggal disebelah rumah.” Jawabku
            “Kamu ini aneh banget sih, orang disebelah rumah kita masih tanah lapang dan belum berdiri rumah kok.” Kata Mama
            “Engga, itu ada rumah. Rumahnya bagus banget. Masa engga tau sih.” Kataku
            Tiba-tiba Vania dan Lidya berada disebelah Mama.
            “Itu dia Vania sama Lidya baru disamping mama.” Kataku
            “Hah? Orang disamping Mama engga ada siapa-siapa kok.” Kata Mama heran
            “Itu ada Vania sama Lidya lagi senyam senyum terus liatin Mama.” Kataku
            Saat itu aku heran sekali kenapa hanya aku yang bisa melihat Vidia dan Lidya. Aku lalu pergi menuju kamar Kak Ilham untuk menanyakan apakah dia melihat mereka juga.
            “Kakak, kakak liat Vania sama Lidya engga dideket pintu?” tanyaku
            “Emang mereka siapa? Dimana?” tanya Kak Ilham balik
            “Masa engga tau sih, mereka itu temen-temennya Nadia dari dulu.” Kataku kesal
            “Kakak engga liat tuh.” Kata Kak Ilham
            Aku semakin kesal dan bertanya kepada Vania dan Lidya
            “Kalian ini sebenernya siapa sih kok mama sama kak Ilham engga bisa liat kalian.” Tanyaku
            Tetapi Vania dan Lidya hanya tersenyum saja.
            “Kalian ini ditanyain engga dijawab.” Kataku
            “Nadia sedang ngomong sama siapa?” tanya Mama
            “Lagi ngomong sama Vania dan Lidya ma, tapi mereka engga jawab.” Kataku tambah kesal
            “Memangnya mereka bentuknya seperti apa?” tanya Mama
            “Ya seperti kita ini tapi lebih putih.” Jawabku
            “Umur mereka berapa?” tanya Mama lagi
            “Ya seumuran sama Nadia.” Kataku dengan polosnya
            Mama yang menyadari keanehan dari diriku lalu membawa aku ketempat salah satu teman Mama yang biasa aku panggil Tante Lilis.
            “Loh ada apa kok tumben datang kemari? Tanya Tante Lilis
            “Ini ada yang aneh sama Nadia. Coba Nadia ceritakan kepada Tante Lilis.” Kata Mama
            “Kan aku punya temen namanya Vania dan Lidya, aku sama mereka itu selalu bermain bersama, kalau ada orang jahat yang bentuknya serem mereka juga selalu melindungi aku, terus kalau kemana-mana mereka selalu ikut. Mereka sekarang juga lagi didekernya Om-om kyai yang ada dibelakangnya tante.” Kataku
            “Ohhh, anakmu ini memang istimewa, engga perlu cemas dan takut.” Kata tante Lilis
            “Maksudnya istimewa?” tanya Mama
            “Nadia ini bisa melihat makhluk dari alam lain sama seperti saya, kedua anak itu merupakan ‘pendamping’ dari Nadia. Apakah sebelumnya Nadia pernah mengalami penyakit aneh?” tanya tante Lilis
            “Pernah sih, kata dokter dia sehat tapi badan Nadia panas dingin.” Kata Mama
            “Ya sudah, sekarang Nadia ikut tante ke deket kolam itu ya.” Kata tante Lilis
            Aku, Mama dan Tante Lilis lalu berjalan menuju kolam yang berada didekat rumah tante Lilis. Betapa kagetnya aku saat itu, aku melihat ada sesosok perempuan sedang duduk di pinggir kolam.
            “Tante tante, itu orang lagi ngapain kok duduk disitu?” tanyaku
            “Engga kenapa-kenapa kok, Nadia bisa liat kan?” tanya Tante Lilis balik
            “Bisa dong.” Jawabku
            Tiba-tiba aku melihat sekilas gambaran tentang Mama dipikiranku.
            “Awas mama nanti jatuh.” Teriakku
            Beberapa saat kemudian Mama terjatuh karena tersandung batu. Aku dan Tante Lilis lalu menolongnya.
            “Anak kamu memang luar biasa, selain bisa melihat makhluk dari alam lain dia juga bisa melihat masa depan.” Kata tante Lilis.
            Terungkap sudah bahwa aku ini mempunyai kemampuan untuk melihat makhluk lain dan mampu melihat masa depan. Hari-hari berikutnya aku, Vania dan Lidya masih bermain bersama layaknya manusia pada umumnya walaupun aku sering diejek gila karena sering berbicara sendiri. Padahal saat itu aku sedang berbicara dengan makhluk lain yang hidup berdampingan dengan kita.



                               Selesai…….

Minggu, 11 November 2012

Kisah 'Green Lady'

           Cerita kali ini bukan hasil karangan dari cerita saya. Tetapi saya akan menceritakan tentang kisah dari “Green Lady”.


Green Lady merupakan kisah hantu sekaligus urban legend yang hidup di Burlington, Connecticut. Kisah tentang sebuah pemakaman berhantu yang digentayangi hantu wanita yang berwarna hijau tewas karena tenggelam di sebuah rawa.

***

            Kisah ini dimulai dengan seorang wanita bernama Elizabeth yang tinggal bersama suaminya di sebuah rumah di samping pemakaman. Selama musim dingin yang sangat panjang, suaminya pergi meninggalkan rumah untuk mendapatkan persediaan makanan tetapi pada saat itu tiba-tiba badai datang secara mendadak dan membuat cuaca sangat buruk, ia pun menunda selama beberapa jam disebuah pondok sekitar pemakaman sampai cuaca buruk menghilang.

            Sementara itu Elizabeth sang istri sangat khawatir dengan suaminya di luar sana dan ia terpaksa mengambil langkah yang sangat fatal, ia memberanikan diri keluar dari rumah dalam keadaan cuaca yang buruk dan berharap menemukan suaminya di suatu tempat. Saat itu ia pun tersesat di dalam hutan yang berdekatan dengan sebuah rawa dan ia berjalan menelusuri rawa. Saat ia menelusuri rawa, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh masuk ke dalam rawa kemudian ia terjebak oleh tanaman yang mengikat tubuhnya di dalam rawa, ia pun menangis dan meronta-ronta meminta pertolongan dan berharap ada yang menolongnya.

            Kemudian di dalam pondok suaminya memberatkan diri dan berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan dan ia pun kembali ke perjalanan pulang ke rumah, ketika ia tiba di dalam hutan ia mendengar sayup-sayup suara rintihan meminta pertolongan

"Tolong…tolong…..! Siapapun disana tolonglah aku!!!"

 Ia pun berlari dan mencari sumber dari suara tersebut. Suara-suara itu pun semakin dekat dan ia pun terus berlari, ketika ia sampai di sebuah rawa, ia pun sangat kaget dan histeris bahwa ia melihat istrinya sedang meronta-ronta menangis meminta pertolongan di dalam rawa. Sang suami hanya bisa menangis dan histeris, ia pun tidak berani untuk menolongnya, ia hanya berdiri dan menyaksikan istrinya tenggelam semakin dalam, ia pun tega mengabaikan jeritan istrinya meminta pertolonganya.Pada akhirnya, air rawa pun perlahan-lahan naik ke atas kepala sang istri dan suaranya yang penuh dengan pilu itu pun tiba-tiba menghilang dalam keheningan, Elizabeth pun tenggelam masuk ke dalam rawa.

            Sejak saat itu, seorang saksi melaporkan bahwa ia melihat sesosok hantu dari seorang wanita yang sedang menangis di sekitar rawa yang dikelilingi oleh kabut hijau. Penduduk sekitar pun berpendapat bahwa penampakan sesosok hantu di sekitar rawa itu adalah Elizabeth yang pergi meninggalkan rumahnya dalam keadaan cuaca buruk untuk mencari suaminya.

            Beberapa tahun kemudian suami dari Elizabeth meninggal karena sakit keras dan ia pun di semayamkan tepat di pemakaman disamping rumahnya. Saat itu ada pasangan muda yang sedang mengambil gambar di sekitar makam, kemudian mereka sangat terkejut melihat hasil foto yang mereka dapat, di dalam foto itu terdapat sebuah kabut berwarna hijau tepat di atas salah satu makam. Ketika mereka mencari informasi dari makam tersebut, bahwa foto yang berhasil mereka tangkap adalah makam di mana makam sang suami Elizabeth yang di semayamkan, dan kabut hijau itu adalah penampakan dari hantu Elizabeth yang menghantui makam suaminya.

            Sebuah cahaya misterius sering terlihat di sekitar rawa. Mereka yang telah melihat cahaya-cahaya itu menyebutnya sebagai lampu atau lentera. Penduduk setempat percaya bahwa cahaya itu adalah sebuah lentera yang di bawa oleh Elizabeth untuk mencari suaminya yang pergi mencari persediaan makanan. Ada sekelompok pelajar sedang pulang sekolah melewati sebuah rawa di dekat hutan, mereka mengatakan bahwa mereka telah diusir oleh seorang pria misterius, bahwa pria itu melarang mereka untuk melewati rawa ini.

            Jika melintasi pemakaman di Burlington, Connecticut dapat melihat sebuah potret lukisan yang tergantung di salah satu jendela rumah yang tidak berpenghuni. Penduduk sekitar mengatakan bahwa potret lukisan itu adalah sebuah potret dari Wanita Hijau atau Green Lady. Penduduk setempat mengatakan bahwa meskipun rumah tua yang sudah lama tidak ditempati, lukisan itu masih tetap terawat dan tetap terlihat baru.


SELESAI

 Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)


Jumat, 09 November 2012

Yuki Onna (Legenda Hantu Wanita Salju di Jepang)

        

Kali ini saya akan menceritakan tentang kisah dari Yuki Onna :)

             
            Kisah Yuki Onna (Wanita Salju) merupakan salah satu cerita hantu klasik di Jepang, yang sudah sering diangkat dalam bentuk Opera, bahkan pernah dibuat dalam bentuk film klasik. Cerita hantu tidak klasik ditandai dengan adegan berdarah-darah, namun lebih merupakan cerita yang yang diisi tokoh manusia dan hantu yang melibatkan percintaan, kesedihan yang dalam dan tragedi.
Cerita dimulai dari dua orang penebang kayu bernama Mosaku dan Minokichi yang hidup di daerah provinsi Musashi (terletak di antara Tokyo dan Saitama), Mosaku adalah seorang pria yang berada di usia senja, sementara muridnya , Minokichi adalah seorang pemuda tegap berumur 18 tahun. Setiap hari mereka berangkat pagi-pagi sekali ke sebuah hutan yang jaraknya 5 mil dari desa mereka. Di antara desa mereka dan hutan yang dituju ada sebuah sungai besar yang beraliran deras. Begitu derasnya arus sungai tersebut sehingga tidak ada jembatan yang kuat menahan arus (jembatan yang ada selalu rusak akibat terjangan arus deras). Siapapun yang ingin menyebrangi sungai harus melewatinya dengan bantuan kapal penyebrang kecil.

            Suatu hari Mosaku dan Minokichi sedang dalam perjalan pulang. Ketika itu cuaca begitu dingin dan mulai turun badai salju. Saat sampai di di tepi sungai, mereka menemukan bahwa si pengayuh perahu yang menyebrangkan mereka telah pulang ke rumah dan meninggalkan perahunya karena cuaca buruk. Sadar bahwa mereka tidak mungkin menyebrangi sungai, mereka memutuskan bermalam di pondok sementara si pengayuh perahu. Pondok itu benar-benar sederhana, hanya terdiri dari sebuah ruangan tanpa jendela yang berisi dua buah Tatami, tanpa perabotan apapun.

            Mosaku dan Minokichi yang sudah lelah segera menutup pintu agar salju tidak masuk ke dalam pondok, kemudian beristirahat. Mereka merasa cukup hangat dan nyaman sehingga Mosaku yang lanjut usia tak lama berbaring langsung tertidur pulas, sementara Minokichi yang masih muda termenung mendengar suara angin yang menderu yang disertai arus sungai yang bertambah deras. Badai tidak mereda dan udara malah bertambah dingin, namun setelah bersusah payah akhirnya Minokichi tertidur juga. Entah telah berapa lama Minokichi tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena merasakan butir-butir salju yang lembut di wajahnya. Ternyata pintu pondok yang mereka diami telah terbuka dengan paksa.

            Minokichi melihat seorang wanita dalam pondok, wanita yang putih seperti salju dan memancarkan cahaya seperti salju (Yuki-Akari) sedang membungkuk di atas Mosaku. Ia tengah meniupkan nafasnya yang dingin menyerupai asap putih kepada Mosaku. Minokichi benar-benar terkejut dan ketakutan, ia ingin menjerit namun tak ada sebuah suara pun yang keluar dari mulutnya. Saat itulah sang wanita misterius itu beradu pandang dengannya, ia mendekatkan wajahnya pada Minokichi. Dalam ketakutan yang amat sangat, Minokichi merasakan bahwa wanita yang berada di hadapannya adalah seorang wanita yang amat cantik, walaupun sorot matanya membuat tubuhnya gemetar dalam ketakutan.

            Wanita itu terus menatap Minokichi dan tiba-tiba tersenyum dan berkata,
“Aku ingin memperlakukanmu sama seperti orang lain, tapi aku kasihan padamu. Kau, masih muda, begitu tampan, Minokichi. Aku tidak akan menyakitimu tapi jika kau memberitahu siapapun termasuk ibumu tentang apa yang terjadi malam ini… maka aku akan membunuhmu! Ingat apa yang telah kukatakan ini.”
Seusai wanita salju itu berkata, ia meninggalkan Minokichi sendirian. Mengira bahwa itu hanyalah mimpi, Minokichi segera bangun dan melihat keluar namun ia tidak melihat siapapun atau apapun. Sambil menutup pintu ia bertanya-tanya apakah bukan angin yang membuka pintu pondok tadi. Ia memanggil Mosaku namun tidak ada jawaban. Minokichi mengulurkan tangan untuk menyentuh Mosaku dan tanpa sengaja ia menyentuh wajah Mosaku, dan ternyata wajahnya telah membeku. Mosaku telah meninggal.

            Ketika fajar tiba, badai pun berakhir dan si pengayuh perahu menemukan Minokichi yang tergeletak pingsan di samping Mosaku yang telah meninggal. Ia membawa keduanya menyebrang, lalu menguburkan jenazah Mosaku. Sementara Minokichi dibawa pulang ke rumahnya. Setelah sembuh, Minokichi tidak dapat langsung melupakan kejadian yang telah ia alami. Ia dihantui oleh kematian Mosaku, namun ia bersikeras untuk menceritakan cerita hantu itu pada siapapun, karena ia tidak ingin kehilangan nyawanya. Lama berselang, Minokichi baru berani kembali pada pekerjaan sehari-harinya, menebang kayu, membelahnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu menjual kayu tersebut ke pasar dengan bantuan ibunya.

            Pada musim dingin tahun berikutnya, Minokichi sedang berada dalam perjalanan pulang melalui jalan setapak di hutan, saat ia berpapasan dengan seorang gadis yang amat cantik, berkulit putih indah, yang hendak melalui jalan yang sama. Minokichi pun menyapa gadis itu dan tanpa disangka gadis itu menjawab dengan suara yang menurut Minokichi adalah suara yang paling merdu didengarnya. Mereka pun mulai berjalan bersama dan bercakap-cakap. Si gadis menceritakan bahwa ia bernama O-Yuki, ia telah kehilangan kedua orangtua, dan untuk menyambung hidupnya ia akan pergi ke Yedo (Edo atau Tokyo) untuk mencari kerabatnya agar dapat membantu mencarikannya pekerjaan sebagai pelayan.

            Entah apa yang dirasakan Minokichi, namun rasanya gadis itu nampaknya makin cantik dimatanya. Minokichi pun mulai merasa suka pada gadis itu, sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya apakah gadis itu sudah memiliki pasangan. Gadis itu tertawa sambil mengatakan bahwa ia belum memiliki pasangan atau kekasih. Ia pun balik bertanya apakah Minokichi telah memiliki pasangan, dan Minokichi menjawab bahwa ia pun belum memilikinya. Setelah pernyataan ini maka kedua muda-mudi ini tidak berbicara lagi sampai mereka tiba di desa tempat tinggal Minokichi. Namun dalam hati masing-masing telah tumbuh rasa saling menyukai. Maka Minokichi mengundang O-Yuki untuk singgah dan beristirahat di rumahnya. O-Yuki ternyata bukan hanya gadis cantik, namun juga berkelakuan baik. Ibu Minokichi pun tak butuh waktu lama untuk menyukainya. Sampai ia membujuk agar O-Yuki mau menunda perjalanannya ke Yedo. Pada akhirnya O-Yuki tidak pernah melanjutkan perjalanannya ke Yedo, melainkan menetap di desa itu dan tinggal bersama Minokichi dan ibunya, sebagai istri dan menantu.

            Lima tahun kemudian ibu Minokichi meninggal, O-Yuki tetap bersama-sama Minokichi, bahkan ia telah melahirkan 10 orang anak lelaki dan perempuan bagi Minokichi. Semuanya tampan dan cantik, serta memiliki kulit putih seindah ibunya. Banyak penduduk desa yang mengagumi O-Yuki. Kebanyakan petani tampak tua setelah melahirkan anak, namun O-Yuki yang telah menjadi ibu 10 anak tetap terlihat cantik. Secantik saat pertama kedatangannya di desa, mereka.

            Suatu malam setelah anak-anak tidur, O-Yuki menjahit dibantu dengan sebuah cahaya dari lampu kertas. Minokichi yang sedang menatapnya, tiba-tiba berkata,
“Melihat kau menjahit dengan pantulan cahaya di wajahmu, aku teringat suatu hal aneh yang terjadi saat aku masih berusia 18 tahun. Kala itu aku melihat seorang wanita yang secantik dan seputih dirimu… dan ia memang mirip denganmu…"

            Tanpa menghentikan pekerjaannya, O-Yuki bertanya,
”Ceritakanlah padaku, dimana kau bertemu dengannya?” lalu Minokichi mulai bercerita tentang Mosaku dan pengalamannya di pondok pengayuh perahu.
“Entah itu sebuah mimpi atau bukan,tapi saat-saat itulah aku pernah melihat orang secantik engkau. Tentu saja ia pasti bukan manusia dan aku sangat takut padanya. Hingga sekarang pun aku tidak yakin apakah yang aku lihat itu mimpi atau memang benar-benar seorang wanita salju.”

            O-Yuki langsung melemparkan jahitannya. Ia mendekati suaminya dan berseru,
“Itu adalah aku! Bukankah aku telah mengatakan bahwa aku akan membunuhmujika cerita itu pernah keluar dari mulutmu. Sekarang, demi anak-anak kita…” O-Yuki tetap berteriak namun suaranya menjadi penuh kesedihan
“Jagalah anak-anak kita, karena jika kamu tidak melakukannya, maka aku akan melakukan hal yang pernah aku katakan padamu…”

            Minokichi tidak sempat berkata apa-apa. O-Yuki mulai tidak terlihat dan kemudian menguap menjadi butir-butir salju yang halus,yang menghilang melalui cerobong asap. Sejak saat itu, ia tidak pernah terlihat lagi. Inilah legenda cerita hantu Yuki Onna.





SELESAI

 Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)