Perkenalkan
namaku Devi. Saat ini aku masih menduduki bangku SMA di Semarang. Beberapa tahun lalu aku mengalami
hal yang menurutku ‘menakutkan’.
Minggu sore yang cerah, aku
berencana untuk berenang disalah satu kolam renang yang ada di Surabaya ini. Aku
pergi bersama Icha, Aya dan Sasa. Kami semua berangkat menuju kolam renang
sekital pukul 16.20 WIB. Perlengkapan sudah kami persiapkan sebelumnya dan siap
dibawa.
Beberapa saat kemudian kami semua
sampai ditempat renag tersebut. Udara segar masih dapat kami dihirup ditempat
itu. Air kolam renang sangat jernih sehingga lantai dasar kolam renangpun
kelihatan dengan jelas. Kami semua lalu berganti pakaian renang dan segera
menceburkan diri.
“Eh cepetan ganti yuk, udah engga
sabar mau nyebur disana.” Kata Icha
“Bener banget, airnya itu
bener-bener jernih.” Kata Aya
“Seger kayaknya kalau nyebur.” Kataku
Kami lalu berjalan menuju
ruang/kamar ganti. Aku merasakan aura yang tidak enak dari dalam ruang ganti. Ditambah
seperti ada yang sedang melihat kami bertiga.
“Eh kamu ngerasa ada yang ngeliatin
kita ngga?” tanyaku
“Engga, orang disini cuman ada kita
berempat doang kok, engga ada siapa-siapalah selain kita.” Jawab Icha
“Eh bener loh kata Devi, aku juga
ngerasa diliatin tapi engga ada wujudnya.” Tambah Aya
“Aduh itu mungkin cuman perasaan
kalian aja.” Kata Icha
“Ya udah yuk langsung nyebur ke kolam
sekarang.” Kataku
Aku, Aya dan Icha segera menuju
kolam renang. Perasaan takut yang muncul kini menghilang setelah melihat air
yang jernih itu. Kami semua lalu masuk kedalam air itu.
“Wuih seger banget airnya.” Kataku dengan
senangnya
“Iya.” Kata Sasa
Diarah belakang tampak seorang
lelaki paruh baya sedang melihat kearah kami. Lelaki itu tampaknya sedang
membersihkan area disekitar kolam renang dengan memegang sapu dan serok
ditangannya. Saat aku mengedipkan mata lelaki itu sudah tidak ada ditempatnya. Terus
tadi siapa yang aku lihat.
“Astaga.” Kataku
“Ada apa Dev?” tanya Icha
“Engga, tadi aku liat ada
bapak-bapak disebelah sana terus waktu aku kedipin bulu mata gara-gara
kemasukan air bapak itu langsung engga ada.”
“Serius kamu?” kata Aya
“Iya bener, eh sumpah aku parno
banget.” Kataku dengan takut
Tiba-tiba ada yang berenang
disekitar kami.
“Tunggu dulu, kakiku seperti ada
yang menarik kebawah.” Kata Sasa
“Serius?” tanyaku
“Ini sumpah kakiku ada yang narik
kebawah.” Jawab Sasa
Tubuh Sasa lama-kelamaan semakin
kebawah.
“Eh sumpah tolongin aku.” Teriak Sasa
“Ayo tarik.” Kata Aya yang sedang
menarik Sasa
Tiba-tiba bapak-bapak itu berada
ditepi kolam dan membantu kami. Sekuat tenaga kami menarik Sasa agar tidak
tenggelam didasar kolam dan akhirnya berhasil. Kami semua lalu membawa Sasa
ketepi kolam.
“Kalian semua harus segera
meninggalkan tempat ini. Karena mereka sedang mencari mangsa disini.” Kata bapak-bapak
itu.
“Maksud bapak?” tanyaku dengan panik.
“Sebenarnya tempat ini menggunakan ‘penglaris’
dengan mengorbakan nyawa pengunjung.” Kata Bapak itu
“Dari mana bapak tau?” tanya Icha
“Baru saja kemaren saat teman saya yang
bernama Agus sesama pekerja disini bercerita tentang tempat ini. Saat itu kami
sedang asyik membersihkan kolam ini. Pengunjung sudah pulang karena saat itu
memang sudah waktunya untuk tutup. Agus lalu bercerita tentang tempat ini,
pemilik disini menggunakan penglaris agar bisnisnya lancar. Ternyata sebagai
gantinya nyawa disini harus dikorbankan. Tiba-tiba dari arah kolam ada yang
menarik Agus dan akhirnya ia tercebur dikolam. Saya dengan sekuat tenaga berusaha membantunya tetapi tidak bisa. Kepalanya
seperti dijedotkan didinding kolam dan mengeluarkan darah. Air yang semula
jernih kini sudah berubah menjadi berwarna merah darah. Tubuh Agus mengapung
tanpa nyawa dikolam itu dan katanya itu Banyu Bening.” Kata bapak itu.
“Ya udah cepet kita pergi dari sini
saja.” Kata Sasa
Tanpa disadari dibelakang tubuh
bapak itu ada sesosok bertubuh tinggi dan menikamnya. Tubuh bapak itu berusaha
melepaskan diri dari tikaman makhluk itu.
“Sudah sana kalian pergi, tinggalkan
tempat ini!” perintah Bapak itu
“Tapi pak, bagaimana dengan bapak?”
tanyaku panik.
“Sudah jangan pikirkan, yang penting
nyawa kalian selamat.” Kata Bapak itu
Kami semua lalu berlari menuju pintu
keluar. Jarak ke pintu keluar terasa
sangat jauh. Kami semua hanya bisa berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
selamat. Akhirnya kami semua dapat selamat meskipun nyawa bapak itu tidak
selamat seperti kami. Itulah beberapa contoh tempat yang memakai penglaris untuk meningkatkan jumlah
pengunjung tetapi juga mengorbaknnya nyawa yang ada ditempat itu, pegawai
sekalipun.
SELESAI
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar