Kamis, 01 November 2012

Antara Ya dan Tidak



            Perkenalkan namaku Devi. Saat ini aku masih menduduki bangku SMA di  Semarang. Beberapa tahun lalu aku mengalami hal yang menurutku ‘menakutkan’.
            Minggu sore yang cerah, aku berencana untuk berenang disalah satu kolam renang yang ada di Surabaya ini. Aku pergi bersama Icha, Aya dan Sasa. Kami semua berangkat menuju kolam renang sekital pukul 16.20 WIB. Perlengkapan sudah kami persiapkan sebelumnya dan siap dibawa.
            Beberapa saat kemudian kami semua sampai ditempat renag tersebut. Udara segar masih dapat kami dihirup ditempat itu. Air kolam renang sangat jernih sehingga lantai dasar kolam renangpun kelihatan dengan jelas. Kami semua lalu berganti pakaian renang dan segera menceburkan diri.
            “Eh cepetan ganti yuk, udah engga sabar mau nyebur disana.” Kata Icha
            “Bener banget, airnya itu bener-bener jernih.” Kata Aya
            “Seger kayaknya kalau nyebur.” Kataku
            Kami lalu berjalan menuju ruang/kamar ganti. Aku merasakan aura yang tidak enak dari dalam ruang ganti. Ditambah seperti ada yang sedang melihat kami bertiga.
            “Eh kamu ngerasa ada yang ngeliatin kita ngga?” tanyaku
            “Engga, orang disini cuman ada kita berempat doang kok, engga ada siapa-siapalah selain kita.” Jawab Icha
            “Eh bener loh kata Devi, aku juga ngerasa diliatin tapi engga ada wujudnya.” Tambah Aya
            “Aduh itu mungkin cuman perasaan kalian aja.” Kata Icha
            “Ya udah yuk langsung nyebur ke kolam sekarang.” Kataku
            Aku, Aya dan Icha segera menuju kolam renang. Perasaan takut yang muncul kini menghilang setelah melihat air yang jernih itu. Kami semua lalu masuk kedalam air itu.
            “Wuih seger banget airnya.” Kataku dengan senangnya
            “Iya.” Kata Sasa
            Diarah belakang tampak seorang lelaki paruh baya sedang melihat kearah kami. Lelaki itu tampaknya sedang membersihkan area disekitar kolam renang dengan memegang sapu dan serok ditangannya. Saat aku mengedipkan mata lelaki itu sudah tidak ada ditempatnya. Terus tadi siapa yang aku lihat.
            “Astaga.” Kataku
            “Ada apa Dev?” tanya Icha
            “Engga, tadi aku liat ada bapak-bapak disebelah sana terus waktu aku kedipin bulu mata gara-gara kemasukan air bapak itu langsung engga ada.”
            “Serius kamu?” kata Aya
            “Iya bener, eh sumpah aku parno banget.” Kataku dengan takut
            Tiba-tiba ada yang berenang disekitar kami.
            “Tunggu dulu, kakiku seperti ada yang menarik kebawah.” Kata Sasa
            “Serius?” tanyaku
            “Ini sumpah kakiku ada yang narik kebawah.” Jawab Sasa
            Tubuh Sasa lama-kelamaan semakin kebawah.
            “Eh sumpah tolongin aku.” Teriak Sasa
            “Ayo tarik.” Kata Aya yang sedang menarik Sasa
            Tiba-tiba bapak-bapak itu berada ditepi kolam dan membantu kami. Sekuat tenaga kami menarik Sasa agar tidak tenggelam didasar kolam dan akhirnya berhasil. Kami semua lalu membawa Sasa ketepi kolam.
            “Kalian semua harus segera meninggalkan tempat ini. Karena mereka sedang mencari mangsa disini.” Kata bapak-bapak itu.
            “Maksud bapak?” tanyaku dengan panik.
            “Sebenarnya tempat ini menggunakan ‘penglaris’ dengan mengorbakan nyawa pengunjung.” Kata Bapak itu
            “Dari mana bapak tau?” tanya Icha
            “Baru saja kemaren saat teman saya yang bernama Agus sesama pekerja disini bercerita tentang tempat ini. Saat itu kami sedang asyik membersihkan kolam ini. Pengunjung sudah pulang karena saat itu memang sudah waktunya untuk tutup. Agus lalu bercerita tentang tempat ini, pemilik disini menggunakan penglaris agar bisnisnya lancar. Ternyata sebagai gantinya nyawa disini harus dikorbankan. Tiba-tiba dari arah kolam ada yang menarik Agus dan akhirnya ia tercebur dikolam. Saya dengan sekuat tenaga berusaha membantunya tetapi tidak bisa. Kepalanya seperti dijedotkan didinding kolam dan mengeluarkan darah. Air yang semula jernih kini sudah berubah menjadi berwarna merah darah. Tubuh Agus mengapung tanpa nyawa dikolam itu dan katanya itu Banyu Bening.” Kata bapak itu.
            “Ya udah cepet kita pergi dari sini saja.” Kata Sasa
            Tanpa disadari dibelakang tubuh bapak itu ada sesosok bertubuh tinggi dan menikamnya. Tubuh bapak itu berusaha melepaskan diri dari tikaman makhluk itu.
            “Sudah sana kalian pergi, tinggalkan tempat ini!” perintah Bapak itu
            “Tapi pak, bagaimana dengan bapak?” tanyaku panik.
            “Sudah jangan pikirkan, yang penting nyawa kalian selamat.” Kata Bapak itu
            Kami semua lalu berlari menuju pintu keluar. Jarak ke pintu keluar  terasa sangat jauh. Kami semua hanya bisa berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selamat. Akhirnya kami semua dapat selamat meskipun nyawa bapak itu tidak selamat seperti kami. Itulah beberapa contoh tempat yang memakai  penglaris untuk meningkatkan jumlah pengunjung tetapi juga mengorbaknnya nyawa yang ada ditempat itu, pegawai sekalipun.



          

SELESAI

 Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar