Kamis, 08 November 2012

Perempuan dalam Gambaran



            Hai perkenalkan namaku Disya. Saat ini aku masih duduk di bangku SMA. Beberapa hari lalu aku mengalami kejadian aneh dan mistis.
            Pagi hari yang cerah, sang surya mulai menampakan cahayanya. Aku berjalan diantara lorong sekolah yang sepi. Ditengah jalan aku bertemu dengan Shania, sahabatku.
            “Shan… tunggu.” Kataku
            “Eh Disya, ke ruang kelas bareng yuk.” Kata Shania
            “Oke.” Kataku
            Aku dan Shania lalu berjalan menuju ruang kelas. Ruang kelasku tepat berada disebelah UKS Sekolah. Aku dan Shania akhirnya sampai didepan kelas juga. Belum ada siapa-siapa didalam. Hanya aku dan Shania saja yang sudah datang.
            “Tumben pada belum dateng, biasanya udah banyak.” Kata Shania
            “Iya sih, engga biasanya loh.” Kataku
            “Ya udah taruh tas dulu aja oke?” tanya Shania
            “Oke.” Jawabku
            Aku dan Shania lalu menaruh tas dibarisan depan sendiri. Memang kami sering sekali duduk sebangku. Tiba-tiba Shania……
            “Dis ada yang aneh.” Kata Shania
            “Apaan? Aku parno banget… takut sumpah, emang ada apa?” tanyaku dengan takut
            “Aku mau ke kamar mandi bentar  ya hehehe.” Jawab Shania
            “Kirain ada apa…” kataku dengan lega
            “Anterin ke kamar mandi ya? Disya baik deh.” pinta Shania
            “Iya deh, tapi jangan nakut-nakutin lagi.” Jawabku
            Aku dan Shania lantas berangkat menuju kamar mandi. Kami menyusuri setiap lorong di Sekolah untuk  menuju kamar mandi. Angin berhembus kencang, daun-daun tampak berguguran.
            “Eh kamu tunggu depan ya?” tanya Shania
            “Oke, tapi jangan lama-lama.” Jawabku
            “Siap….” Kata Shania
            Shania lalu masuk kedalam kamar mandi sedangkan aku menunggu didepan. Perasaanku mulai tak karuan. Aku merasakan kehadiran ‘makhluk lain’ ditempat itu. Aku mencoba menahan rasa takutku itu dengan menyayi-nyanyi. Dan akhirnya Shania selesai juga.
            “Huh untung kamu udah selesai.” Kataku
            “Benerkan aku cepet hahaha.” Kata Shania
            “Iya iya kamu cepet, secepat kilat hahaha. Yuk balik ke kelas, ntar tau-tau malah udah ada Bu Sarmi di kelas.” Kataku
            Kami bergegas menuju kelas kembali. Hal itu ternyata memang terjadi, Bu Sarmi sudah ada didalam kelas.
            “Kalian ini, dari mana saja. Sudah ditunggu dari tadi kok malah engga datang. Keluar kelas juga engga pamit segala lagi.” Kata Bu Sarmi
            “Tapi Bu….” Kata Shania
            “Sudah sekarang kamu kerjakan halaman 113 di Perpustakaan sekarang!” perintah Bu Sarmi
            Hah? Begitu kagetnya aku. Perasaan tadi belum ada siapa-siapa di kelas tetapi mengapa Bu Sarmi dan anak-anak yang lain sudah datang dari tadi. Aku dan Shania juga pergi keluar kelas tidak pamit kepada Bu Sarmi dan katanya pergi lama sekali. Perasaan tadi waktu keluar tidak ada siapa-siapa dikelas, hanya ada aku dan Shania. Kami pergi ke kamar mandi hanya sekitar 5 menit tetapi dibilang lama sekali.
            Aku dan Shania saling bertatap muka terheran-heran. Kejadian apa yang kami alami barusan? Sungguh aneh. Aku dan Shania lalu menuju Perpustakaan untuk menggerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Sarmi.
            “Aneh banget ngga sih, perasaan tadi belum ada siapa-siapa dikelas.” Kata Shania
            “Iya aneh banget, engga masuk logika. Udah yang penting kerjain tugasnya dulu.” Kataku
            Kami lalu menggerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Sarmi. Tugas yang diberikan Bu Sarmi sangat banyak. Tetapi ada yang aneh dibuku Shania.
            “Disya, kenapa ada ceceran darah dibuku halaman 113 tempatku?” tanya Shania
            “Mungkin itu kena darahmu.” Jawabku
            “Engga mungkin, kemaren malem halaman ini baru aja aku buka, tapi engga ada darah setetes pun. Selama ini tanganku juga engga pernah berdarah.” Kata Shania
            “Haduh… hari ini emang kejadiannya diluar logika banget. Sekarang fokus ngerjain dulu lah.” Kataku
            Aku masih heran dengan kejadian ini. Semuanya berasa sangat diluar logika. Ditambah kejadian yang menimpa buku halaman 113 milik Shania.
            Aku memperhatikan Shania, dia bukannya ngerjain tugas yang diberikan oleh Bu Sarmi, tetapi malah menggambar. Aku mulai menanyakan hal ini.
            “Kamu lagi gambar apa?” tanyaku
            “Ini lagi gambar orang yang  tadi di kamar mandi aku temui. Orangnya cantik banget, ngalahin kecantikannya Asmirandah.” Jawab Shania
            “Kamu ini bukannya ngerjain tugas malah ngambar. Eh bentar bukannya tadi di kamar mandi cuman ada kita berdua ya?” tanyaku
            “Tadi ada tiga orang kok. Aku, kamu dan perempuan cantik itu.” Jawab Shania
            “Ah ngaco, orang kita cuman berdua. Ya udah lupain aja sekarang kerjain tugasnya dulu.” Kataku
            “Eh bentar, aku ke kamar mandi lagi ya, kebelet banget.” Kata Shania
            “Ya udah, cepet sana ntar ngompol disini hahaha.” Kataku
            Aku meneruskan mengerjakan tugas yang diberikan Bu Sarmi. Tetapi setelah sekitar 30 menit, Shania tak kunjung kembali. Aku merasa heran dan takut. Diarah pintu tampak seorang perempuan yang sedang berlari menujuku. Wajahnya sangat mirip seperti yang digambar oleh Shania tadi. Nampaknya dia ingin memberitahukan sesuatu kepadaku. Dia menyuruhku mengikuti dia, aku hanya menurut saja.
            Dia berlari menuju kamar mandi cewek tempat dimana Shania pergi. Aku kaget setengah mati melihat Shania tergeletak di dalam kamar mandi.
            “Ya Tuhan Shania……” teriakku
            Aku berlari menuju tempat Shania tergeletak. Aku menyuruh perempuan itu untuk menjaga Shania karena aku akan mencari bantuan. Perempuan itu hanya mengangguk dan tersenyum. Lantas aku berlari menuju Ruang Guru untuk meminta bantuan.
            “Pak tolong saya, teman saya jatuh di kamar mandi.” Kataku
            “Ya sudah,  saya dan Pak Burhan akan kesana” kata Pak Jono, salah satu guru
            Kami semua lalu berlari menuju kamar mandi. Tetapi saat kami sampai disana, Shania sudah tidak ada ditempatnya.
            “Mana teman adek yang katanya jatuh itu?” tanya Pak Jono
            “Tadi ada disini pak, sumpah deh engga bohong.” Jawabku dengan perasaan heran.
            “Sekarang kita pergi ke UKS saja, mungkin dia sudah dibawa kesana.” Kata Pak Burhan
            Kami semua lalu menuju UKS. Dan ternyata Shania sudah ada disana bersama perempuan tadi.
            “Kamu yang sudah membawa Shania kesini ya?” tanyaku
            Perempuan itu hanya mengangguk dan tersenyum.
“Terimakasih sudah membawa teman saya kesini.” Kataku kepada perempuan itu
            “Eh kamu ngomong sama siapa?” tanya Pak Burhan
            “Itu Pak, orang yang ada disitu. Dia yang sudah membawa Shania kesini.” Kataku sambil menunjuk arah dimana perempuan itu berasa
            “Ngaco ah, orang disini cuman ada kita kok.” Kata Pak Burhan
            Aku melihat kearah perempuan itu lagi. Dia hanya tersenyum kepadaku dan tubuhnya berangsur-angsur menghilang. Siapakah dia? Kenapa hanya aku yang bisa melihat dia dan kenapa dia menghilang seketika? Perasaanku mulai takut saat itu.
            Akhirnya Shania siuman. Ia mulai menceritakan ketika dia jatuh.
            “Pas aku mau masuk kedalam, kakiku terpeleset hingga terjatuh dan mengakibatkan aku pingsan seperti ini.” Kata Shania


            “Ya sudah kamu istirahat dulu.” kata Pak Burhan
            Aku menemani Shania di UKS. Setelah beberapa lama di UKS, aku mengambil buku yang ada di Perpustakaan tadi. Dan anehnya lagi gambar perempuan itu yang sempat digambar oleh Shania hilang tanpa bekas, hanya tertinggal kertas kosong saja. Darah yang ada dibuku halaman 113 milik Shania juga hilang tanpa bekas. Apakah ini tanda jika Shania akan mengalami musibah? Berarti perempuan misterius itu adalah…………..


SELESAI

 Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar