Namaku Diky. Sekarang aku berumur 18
tahun. Dahulu aku tinggal disebuah rumah yang tampak indah tetapi didalamnya
menyimpan banyak misteri. Aku mengalami hal-hal ganjil yang tak masuk
akal dirumah itu.
Suatu
sore yang indah, saat itu aku sedang mengerjakan tugas dari sekolah. Tugas itu
sangat banyak sekali. Tetapi saat sedang asyik mengerjakan tugas tiba-tiba ada
sekelebat bayangan lewat didepanku.
“Siapa
itu?”
Aku
mulai penasaran dengan sekelebatan bayangan itu dan mulai mencarinya. Dari
mulai halaman rumah sampai halaman belakang aku lewati tetapi tidak menemukan
apa-apa. Tetapi ada hal aneh yang terjadi di dapur. Ada suara orang sedang
berbisik-bisik. Langkah kakiku berjalan menuju dapur untuk memeriksanya karena
saat itu yang ada di rumah hanya aku dan kedua orangtuaku sedang pergi keluar
kota. Di dinding ada sebuah tulisan menggunakan darah yang bertuliskan “TOLONGGGGG…!!!!!”
Aku tercengang-cengan melihat tulisan darah
itu. Siapakah yang menulis ini? Bukankah dirumah ini hanya aku yang disini.
Tanpa pikir panjang aku langsung menelpon temanku, Jono karena takut ada
hal-hal yang tidak diinginkan. Saat kucium darah itu masih segar seperti habis
keluar dari tubuh.
Beberapa
saat kemudian Jono datang kerumah. Aku langsung mengajaknya ke dapur untuk
melihat kejadian ini. Tetapi saat aku lihat…….
“Mana
Ky kok engga ada?” tanya Jono
“Tadi
ada disini. Suer deh engga bohong. Tapi kok sekarang engga ada.” Jawabku
terheran-heran melihat kejadian ini
“Yang
bener? Disini juga engga tercium bau darah.” Kata Jono sembari memeriksa daerah
sekitar
“Bener
sumpah, tadi aku liat disini.” Kataku yang sedang menunjukan tempat dimana
tulisan itu berasal.
“Rumah
ini sepertinya ada yang engga beres. Barusan aku liat ada sekelebat bayangan lewat
dideket kamar mandi.” Kata Jono yang sedang menuju arah kamar mandi.
“Astagaaaaa……………..”
teriak Jono
Aku
langsung berlari menuju arah dimana Jono berteriak yaitu di kamar mandi. Memang
disini banyak kejadian aneh.
“Kenpa
Jon?” tanyaku dengan panik
“Liat
diarah dinding atas!”perintah Jono
Aku
kaget melihat ada sebuah tulisan “TOLOING
AKU…TOLONG AKU !!!!!!”
“Cepat sekarang panggil Indira untuk kesini!”
perintah Jono
Aku
langsung menelpon Indira untuk pergi ke rumahku.
Adzan
Maghrib mulai berkumandang. Suasanya seram semakin mencekam dirumah ini. Aku
dan Jono menunggu Indira didepan rumah. Beberapa menit kemudian Indira datang
dengan membawa saudaranya.
“Akhirnya
kamu dateng juga. Yang disebelah kamu siapa?” tanyaku kepada Indira
“Kenalkan
ini Desy, saudaraku yang dari Bekasi.” Jawab Indira
“Hai….”
Kata Desy
“Eh
cepet masuk kedalam rumah.” Kata Jono
Kamu
semua langsung masuk kedalam rumah. Aku agak aneh melihat saudara Indira yang
bernama Desy itu. Terkadang ia memejamkan mata, kemudian bibirnya seperti
‘komat-kamit’ sendiri. Ih ngeri liatny. Desy kemudian mulai berbisik-bisik
kepada kepada Indira dan tercetus sebuah kalimat dari mulut Desy….
“Masa
lalu yang suram”
Apa
maksud dari kata itu?. Tiba-tiba ada suara berisik dari arah gudang belakang.
Kami semua lantas langsung berlari menuju arah suara itu berasal. Tulisan Darah
itu muncul lagi “TOLONG
AKU…. SEKALI LAGI TOLONG AKU……”
“Ya Tuhan…….” Teriak Indira
“Ini
yang aku maksud.” Kataku yang sedikit takut.
“Boleh
kita tinggal disini semalam saja?” tanya Desy
“Buat
apa? Toh kitakan bukan muhrim engga boleh satu atap.” Kata Jono
“Dari
pada tambah runyam masalahnya” kata Desy
“Oke,
kalian bisa tidur di kamar bersama adikku.”
“Nah
si Dira dimana kok engga ada?” tanya Indira
“Lagi
maen ditempat temenya.” Jawabku
Tiba-tiba
suara jeritan terdengar diruang tamu. Kami semua langsung berlari menuju sumber
suara tersebut. Ternyata suara jeritan itu berasal dari adikku, Dira yang habis
pulang dari rumah temannya.
“Ada
apa dek?” tanyaku
“Coba
liat didinding” jawab Dira
Tampak
sebuah tulisan “KALIAN SEMUA AKAN MATI MALAM
INI JUGA!!!!!!”
“Sekarang
lari ke pintu cepat!!!!” Desy sedang memberi perintah
“Pintunya
engga bisa dibuka. Terus gimana???” kata Jono takut
“Dibelakang
ada anak perempuan yang membawa pisau karatan. Pasti dia akan membunuh kita
semu, Dira takut…”
“Mendingan
sekarang kita lewat pintu samping yang bulum terkunci.” Kataku yang sedang
menunjuk arah pintu
Kami
semua lalu berlari menuju pintu samping. Jalan menuju pintu samping terasa
sangat jauh. Belum lagi ditambah banyak cipratan darah yang mengenai dinding.
Hantu perempuan itu berjalan dibelakang kita dengan pisau karatan ditangannya.
“Pintu
ini juga ngga bisa, terus gimana?” tanya Indira dengan panik
“Kita
mencar jadi tiga, Diky dan Jono, Indira dan Dira cari jalan keluar segera sedangkan aku sendiri yang akan menangani ini.”
Aku
dan Jono berlari menuju halaman belakang untuk mencari tangga. Lagi-lagi jalan
menuju halaman sangat jauh. Tanpa disadari kakiku menendang sebuah kepala
manusia yang berlumuran darah. Kepala itu lalu menyerangku hingga memberi aku
luka dibagian kaki seperti gigitan. Aku berusaha menyingkirkan kepala ini dari
kakiku. Jono membantu dengan cara memukul kepala itu menggunakan panci yang ada
disitu. Bukannya kena malah ia terlempar hingga terjebur dikolam ikan. Dengan sekuat
tenaga akhirnya aku berhasil melepaskan kepala itu dari kakiku.
Aku
melihat Indira dan Dira sedang berlari dikejar perempuan berambur panjang
dengan kuku panjang sekitar 30cm. Darah berceceran dimana-mana. Aku berteriak
memanggil Indira dan Dira
“Semuanya
kesini….kita naik tembok dengan tangga yang ada disitu.” Teriakku sekuat
tenaga.
Kami
semua berlari menuju tangga dipojokan halaman. Ditangga sendiri ada sebuah
tulisan darah “JANGAN PERNAH LARI DARI KEMATIAN
!!!!!!” Kami semua
dengan sekuat tenaga dan nekat menaiki tangga tersebut. Dengan terpaksa kami melompati
tembok. Satu persatu dari kami akhirnya berhasil melompati tembok. Kami
kemudian berlari melewati gang sempit dan kemudian memanggil seorang
pemuka agama di daerah sini yang bermana Pak Ponijan.
“Pak
tolong kami semua, kami dikejar-kejar setan sampai tidak tau harus bagaimana.
Dirumah Diky salah seorang teman kami sedang berusaha melawan mereka” Kata Jono
“Iya
benar, saya bisa merasakan mereka ada didepan rumah saya menunggu kalian
keluar. Saya akan bantu kalian untuk mengusir mereka.” Kata Pak Ponijan
Pak
Ponijan kemudian bertarung melawan mereka semua yang mengejar kami dan akhirnya
mereka dapat dikalahkan. Sekarang kami semua berlari menuju rumahku untuk
membantu Desy.
“Kalian
tunggu didepan rumah saja. Bahaya kalau ikut masuk!” perintah Pak Ponijan.
Kami
semua hanya terdiam diluar rumah dan berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
kami semua dapat selamat melewati cobaan ini.
Setelah
beberapa lama menunggu akhirnya Desy dan Pak Ponijan keluar dari rumah.
Keringat masih keluar dari tubuh mereka.
“Akhirnya
kalian semua bisa keluar dengan selamat.” Kata Indira yang kemudian memeluk
Desy dengan bangga.
“Ya
alhamdullilah semua juga berkat do’a kalian.” Kata Desy
“Kalian
kok bisa keluar dari sana?” tanyaku
“Sebenarnya
saat kalian berpencar banyak makhluk astral yang berdatangan, hantu kecil itu
ingin balas dendam kepada orang yang membunuh dia. Makanya dia membuat tulisan
darah itu. Tapi untunglah berhasil aku hadapi berkat Pak Ponijan juga…hihihi”
jawab Desy
“Sebenarnya
kita sedang berpesta melawan mereka semua.” Kata Pak Ponijan sembari ketawa.
“Pak
Pon hobinya ngelawak melulu hahaha.” Kata Dira yang ikut-ikutan ketawa.
“Ya
udah yuk sekarang kita masuk rumah, ngga enak kalau diliat tetangga.” Kataku
Akhirnya
kami semua lega dan bisa masuk rumah kembali. Suasana mencekam
berangsung-angsur hilang. Aku berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
telah berhasil melewati cobaan ‘horor’ ini. Terima Kasih juga sudah membaca
kisahku.
SELESAI
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar