Selasa, 23 Oktober 2012

Cerita Horor : Darah Merah



            Namaku Diky. Sekarang aku berumur 18 tahun. Dahulu aku tinggal disebuah rumah yang tampak indah tetapi didalamnya menyimpan banyak misteri. Aku mengalami hal-hal ganjil yang tak masuk akal dirumah itu.
            Suatu sore yang indah, saat itu aku sedang mengerjakan tugas dari sekolah. Tugas itu sangat banyak sekali. Tetapi saat sedang asyik mengerjakan tugas tiba-tiba ada sekelebat bayangan lewat didepanku.
            “Siapa itu?”
            Aku mulai penasaran dengan sekelebatan bayangan itu dan mulai mencarinya. Dari mulai halaman rumah sampai halaman belakang aku lewati tetapi tidak menemukan apa-apa. Tetapi ada hal aneh yang terjadi di dapur. Ada suara orang sedang berbisik-bisik. Langkah kakiku berjalan menuju dapur untuk memeriksanya karena saat itu yang ada di rumah hanya aku dan kedua orangtuaku sedang pergi keluar kota. Di dinding ada sebuah tulisan menggunakan darah yang bertuliskan TOLONGGGGG!!!!!
        Aku tercengang-cengan melihat tulisan darah itu. Siapakah yang menulis ini? Bukankah dirumah ini hanya aku yang disini. Tanpa pikir panjang aku langsung menelpon temanku, Jono karena takut ada hal-hal yang tidak diinginkan. Saat kucium darah itu masih segar seperti habis keluar dari tubuh.
            Beberapa saat kemudian Jono datang kerumah. Aku langsung mengajaknya ke dapur untuk melihat kejadian ini. Tetapi saat aku lihat…….
            “Mana Ky kok engga ada?” tanya Jono
            “Tadi ada disini. Suer deh engga bohong. Tapi kok sekarang engga ada.” Jawabku terheran-heran melihat kejadian ini
            “Yang bener? Disini juga engga tercium bau darah.” Kata Jono sembari memeriksa daerah sekitar
            “Bener sumpah, tadi aku liat disini.” Kataku yang sedang menunjukan tempat dimana tulisan itu berasal.
            “Rumah ini sepertinya ada yang engga beres. Barusan aku liat ada sekelebat bayangan lewat dideket kamar mandi.” Kata Jono yang sedang menuju arah kamar mandi.
            “Astagaaaaa……………..” teriak Jono
            Aku langsung berlari menuju arah dimana Jono berteriak yaitu di kamar mandi. Memang disini banyak kejadian aneh.
            “Kenpa Jon?” tanyaku dengan panik
            “Liat diarah dinding atas!”perintah Jono
            Aku kaget melihat ada sebuah tulisan TOLOING AKUTOLONG AKU !!!!!!
        “Cepat sekarang panggil Indira untuk kesini!” perintah Jono
            Aku langsung menelpon Indira untuk pergi ke rumahku.
            Adzan Maghrib mulai berkumandang. Suasanya seram semakin mencekam dirumah ini. Aku dan Jono menunggu Indira didepan rumah. Beberapa menit kemudian Indira datang dengan membawa saudaranya.
            “Akhirnya kamu dateng juga. Yang disebelah kamu siapa?” tanyaku kepada Indira
            “Kenalkan ini Desy, saudaraku yang dari Bekasi.” Jawab Indira
            “Hai….” Kata Desy
            “Eh cepet masuk kedalam rumah.” Kata Jono
            Kamu semua langsung masuk kedalam rumah. Aku agak aneh melihat saudara Indira yang bernama Desy itu. Terkadang ia memejamkan mata, kemudian bibirnya seperti ‘komat-kamit’ sendiri. Ih ngeri liatny. Desy kemudian mulai berbisik-bisik kepada kepada Indira dan tercetus sebuah kalimat dari mulut Desy….
            “Masa lalu yang suram”
            Apa maksud dari kata itu?. Tiba-tiba ada suara berisik dari arah gudang belakang. Kami semua lantas langsung berlari menuju arah suara itu berasal. Tulisan Darah itu muncul lagi TOLONG AKU. SEKALI LAGI TOLONG AKU……”
                “Ya Tuhan…….” Teriak Indira
            “Ini yang aku maksud.” Kataku yang sedikit takut.
            “Boleh kita tinggal disini semalam saja?” tanya Desy
            “Buat apa? Toh kitakan bukan muhrim engga boleh satu atap.” Kata Jono
            “Dari pada tambah runyam masalahnya” kata Desy
            “Oke, kalian bisa tidur di kamar bersama adikku.”
            “Nah si Dira dimana kok engga ada?” tanya Indira
            “Lagi maen ditempat temenya.” Jawabku
Tiba-tiba suara jeritan terdengar diruang tamu. Kami semua langsung berlari menuju sumber suara tersebut. Ternyata suara jeritan itu berasal dari adikku, Dira yang habis pulang dari rumah temannya.
“Ada apa dek?” tanyaku
            “Coba liat didinding” jawab Dira
            Tampak sebuah tulisan KALIAN SEMUA AKAN  MATI  MALAM INI JUGA!!!!!!
            “Sekarang lari ke pintu cepat!!!!” Desy sedang memberi perintah
            “Pintunya engga bisa dibuka. Terus gimana???” kata Jono takut
            “Dibelakang ada anak perempuan yang membawa pisau karatan. Pasti dia akan membunuh kita semu, Dira takut…”
            “Mendingan sekarang kita lewat pintu samping yang bulum terkunci.” Kataku yang sedang menunjuk arah pintu
            Kami semua lalu berlari menuju pintu samping. Jalan menuju pintu samping terasa sangat jauh. Belum lagi ditambah banyak cipratan darah yang mengenai dinding. Hantu perempuan itu berjalan dibelakang kita dengan pisau karatan ditangannya.
            “Pintu ini juga ngga bisa, terus gimana?” tanya Indira dengan panik
            “Kita mencar jadi tiga, Diky dan Jono, Indira dan Dira cari jalan keluar segera  sedangkan aku sendiri yang akan menangani ini.”
            Aku dan Jono berlari menuju halaman belakang untuk mencari tangga. Lagi-lagi jalan menuju halaman sangat jauh. Tanpa disadari kakiku menendang sebuah kepala manusia yang berlumuran darah. Kepala itu lalu menyerangku hingga memberi aku luka dibagian kaki seperti gigitan. Aku berusaha menyingkirkan kepala ini dari kakiku. Jono membantu dengan cara memukul kepala itu menggunakan panci yang ada disitu. Bukannya kena malah ia terlempar hingga terjebur dikolam ikan. Dengan sekuat tenaga akhirnya aku berhasil melepaskan kepala itu dari kakiku.
            Aku melihat Indira dan Dira sedang berlari dikejar perempuan berambur panjang dengan kuku panjang sekitar 30cm. Darah berceceran dimana-mana. Aku berteriak memanggil Indira dan Dira
            “Semuanya kesini….kita naik tembok dengan tangga yang ada disitu.” Teriakku sekuat tenaga.
            Kami semua berlari menuju tangga dipojokan halaman. Ditangga sendiri ada sebuah tulisan darah JANGAN PERNAH LARI DARI KEMATIAN !!!!!! Kami semua dengan sekuat tenaga dan nekat menaiki tangga tersebut. Dengan terpaksa kami melompati tembok. Satu persatu dari kami akhirnya berhasil melompati tembok. Kami kemudian berlari melewati gang sempit dan kemudian  memanggil seorang pemuka agama di daerah sini yang bermana Pak Ponijan.
            “Pak tolong kami semua, kami dikejar-kejar setan sampai tidak tau harus bagaimana. Dirumah Diky salah seorang teman kami sedang berusaha melawan mereka” Kata Jono
            “Iya benar, saya bisa merasakan mereka ada didepan rumah saya menunggu kalian keluar. Saya akan bantu kalian untuk mengusir mereka.” Kata Pak Ponijan
            Pak Ponijan kemudian bertarung melawan mereka semua yang mengejar kami dan akhirnya mereka dapat dikalahkan. Sekarang kami semua berlari menuju rumahku untuk membantu Desy.
            “Kalian tunggu didepan rumah saja. Bahaya kalau ikut masuk!” perintah Pak Ponijan.
            Kami semua hanya terdiam diluar rumah dan berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kami semua dapat selamat melewati cobaan ini.
            Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Desy dan Pak Ponijan keluar dari rumah. Keringat masih keluar dari tubuh mereka.
            “Akhirnya kalian semua bisa keluar dengan selamat.” Kata Indira yang kemudian memeluk Desy dengan bangga.
            “Ya alhamdullilah semua juga berkat do’a kalian.” Kata Desy
            “Kalian kok bisa keluar dari sana?” tanyaku
            “Sebenarnya saat kalian berpencar banyak makhluk astral yang berdatangan, hantu kecil itu ingin balas dendam kepada orang yang membunuh dia. Makanya dia membuat tulisan darah itu. Tapi untunglah berhasil aku hadapi berkat Pak Ponijan juga…hihihi” jawab Desy
            “Sebenarnya kita sedang berpesta melawan mereka semua.” Kata Pak Ponijan sembari ketawa.
            “Pak Pon hobinya ngelawak melulu hahaha.” Kata Dira yang ikut-ikutan ketawa.
            “Ya udah yuk sekarang kita masuk rumah, ngga enak kalau diliat tetangga.” Kataku
            Akhirnya kami semua lega dan bisa masuk rumah kembali. Suasana mencekam berangsung-angsur hilang. Aku berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah berhasil melewati cobaan ‘horor’ ini. Terima Kasih juga sudah membaca kisahku.

SELESAI

 Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar