Perkenalkan nama saya Calista. Saya
sudah mengalami beberapa hal kejadian ghaib yang sulit masuk akal. Inilah
cerita saya…..
Beberapa
hari lalu, Saya dan keluarga berpindah rumah dari Bekasi menuju Yogyakarta.
Saya menempati rumah baru diujung gang yang sempit dan ‘Wingit’. Lokasi rumah
saya memang aneh, seperti ‘Tusuk Sate’. Kalau dilihat dari depan memang rumahku
yang baru sangat indah dan tampak normal seperti rumah yang lain. Tetapi jika
sudah masuk kedalam suasana mencekam sudah mulai terasa. Beberapa hari kemudian,
kejadian-kejadian aneh itu mulai menimpa diriku dan keluargaku.
Hari
Minggu yang cerah, aku dan adikku yang bernama Rifqi membereskan rumah yang
masih berantakan. Kardus-kardus berserakan dimana-mana akibat belum ditata dengan
rapi. Aku membersihkan dan merapikan bagian kamar tidurku dan adikku. Tiba-tiba
terdengar seperti suara tangisan anak kecil. Aku langsung pergi menuju tempat
adikku.
“Dek
kamu kenapa?” tanyaku kepada Rifqi.
“Ada
apasih kak kok panik begitu?” jawab Rifqi
“Nah
kamu barusan nangis kan?” tanyaku lagi.
“Engga
kok, orang dari tadi aku engga nangis kok. Liat aja mataku engga merah kan.”
Jawab adikku sembari memegang matanya.
“Iya
sih, ya udah kakak tinggal lagi. Kalau ada apa-apa kamu ke kamar kakak ya.”
Aku
masih bingung siapa yang menangis tadi. Suaranya memang seperti adikku. Tetapi
setelah ditanya dia tidak menangis. Ah mungkin itu hanya imajinasiku saja.
Segeralah aku membersihkan kamarku lagi.
Setelah
beberapa jam membersihkan kamar, aku beranjak untuk mandi. Saat itu jam
menunjukan pukul 19.00 WIB. Aku membuka pintu kamar mandi, perasaanku sudah
mulai tidak karuan. Aku merasakan tidak hanya aku yang berada ditempat itu.
Bulu kudukku mulai merinding. Tiba-tiba ada sekelebat bayangan putih terbang
dari arah ventilasi jendela. Aku langsung menjerit dengan kencang
“Aaaaaaaaa………..”. Seisi rumah panik dan langsung menghampiriku.
“Calis,
ada apa?” tanya Ayah
“Ada..ada…ada
ada bayangan putih terbang dari ventilasi.” Jawabku dengan takut
“Bayangan
apa sih? Orang ngga ada gitu.” Kata Ibu
“Ya sudah,
sekarang balik ke kamar masing-masing. Nanti biar Ayah yang cari tau.”
Perasaan
takut, bingung campur menjadi Satu. Engga mungkinkan aku salah liat. Yasudah
kejadian tadi sudah aku lupakan. Hari semakin malam, aku beranjak menuju tempat
tidurku. Tanpa kusadari aku menginjak genangan darah. Tiba-tiba dari kamar
Rifqi terdengar suara jeritan yang keras. Aku, Ayah, Ibu dan Mbak Murni langsung
pergi menuju kamar Rifqi.
“Rifqi
kamu kenapa?” tanya Ayah
“Aku
habis dicekik sama orang tinggi besar, badannya hitam, matanya merah, rambutnya
panjang lebat.” Jawab Rifqi ketakutan
“Ayah,
kayaknya dirumah ini ada yang engga beres. Tadi aku denger suara orang nangis,
terus aku tadi liat ada bayangan hitam diventilasi dan sekarang Rifqi habis
dicekik.” Kataku dengan sedikit takut.
“Sekarang
kita berdo’a saja supaya tidak diganggu lagi.” Kata Ayah
Tepat
dibelakang ibu, sosok makhluk astral itu muncul.
“Nah
itu dia yang mencekik aku tadi. Dia lagi dibelakang ibu.”
Memang
Rifqi mempunyai ‘Sixth Sense’ atau semacam Indra keenam yang kuat. Seisi rumah
mulai panik.
“Den,
Mbak Murni punya kenalan seorang Paranormal namanya Mas Mardi. Apa kita panggil
dia saja?” tanya mbak Murni.
“Ya
udah mbak, kamu telfon si Mas Mardi ” Jawab Ayah
Tanpa
basa-basi mbak Murni langsung menelfon Mas Mardi. Sementara itu, semakin malam
semakin banyak makhluk astral yang datang dari berbagai arah. Wajah ‘mereka’
pun juga tidak karuan alias rusak berat. Aku, Ayah, Ibu, Rifqi dan simbok
berkumpul di ruang tamu
“Kakak,
Rifqi liat ada kakek-kakek mukanya kayak ada saosnya dideket jendela. Rifqi
juga liat ada kepala yang terbang dimana-mana.” Kata Rifqi
Bulu
kudukku semakin merinding. Udara dirumah terasa sangat pengap sekali. Seketika
ada yang menarik aku dari belakang. Aku berusaha untuk melepaskan tarikannya
tersebut. Tapi sia-sia, kepalaku dibenturkan di meja oleh makhluk astral itu.
“Ayah,
Ibu kak Calis dibenturin ke meja sama perempuan yang tangannya panjang itu.” Teriak
Rifqi.
Ayah
segera membantuku tapi malah dilempar kearah tangga. Rambut mbak Murni ditarik
oleh sesosok yang katanya ‘Genderuwo’. Kaki Ibu ditarik oleh dua makhluk yang
berbadan seperti anak kecil tapi berwajah tua serta memiliki kuku yang panjang
dan hitam. Kami semua berusaha melawan mereka. Tetapi setiap melawan pasti kami
celaka.
Beberapa
saat kemudian Mas Mardi datang kerumah.
“Mas
Mardi genteng, tolong kami semua dong. Kamu engga mau kan kalau si Cantikmu ini
kena apa-apa.” Kata Mbak Marni dengan genitnya.
Dengan
sok berani Mas Mardi melawan makhluk astral. Tetapi ia malah lari ketakutan,
“Mas…mas
tungguuuu….” Teriak ibu dengan sekuat tenaga.
“Aduh
terus siapa yang akan membantu melepaskan dari mereka??” tanya Ayah.
“Rifqi.
Iya bener Rifqi. Dia kan bisa berkomunikasi dengan mereka. Coba sekarang Rifqi
ngomong ke mereka supaya pergi dari sini.” Kataku
“Iya
bener. Ayo sekarang cepat, ibu udah engga kuat menahan mereka.” Kata Ibu
“Tapi
mereka terlalu banyak.” Kata Rifqi
“Sekarang
Rifqi coba, pertama berdo’a dulu dan fokuskan pikiran kemereka.” Kata Ayah.
Rifqi
berusaha berdo’a dan berbicara dengan mereka.
“Sebenarnya
kalian mau apa datang kesini? Keluarga Rifqi kan engga punya salah sama kalian?”
tanya Rifqi.
“Kami
hanya ingin tinggal disini. Gara-gara kalian kami semua diusir dari tempat ini.
Kami penunggu rumah ini. Sekarang kami mau menuntut balas kepada kalian.” Jawab salah satu makhluk
astral
“Tapi
kalian masih bisa tinggal ditempat lain kan?”
“Tidak
bisa, sudah lama kami semua tinggal di tempat ini!” bentak sesosok makhluk
astral lalu mendorong Rifqi.
“Rifqi!!!!”
teriak kami semua.
“Rifqi
tetap fokus!!!!!” teriak Ayah
“Tolong
kalian semua pergi dari sini!!!!!!!!!!” kata Rifqi.
Kretek,Krompyang,Byarrrrrr
Jedar Jedorrrrrrrrrrrrrrr…… seisi rumah tampak porak poranda. Rifqi masih berusaha
untuk mengusir mereka.Sementara Mbak Murni menangis dengan keras karena takut.
Diatap rumah terdengar seperti suara ledakan kembang api dengan keras. Aku
hanya berdo’a agar kami semua selamat menghadapi malam yang suram ini.
Sempat
terlintas dipikiranku kalau aku tidak bisa bertahan hidup. Ibu dan Mbak Murni mulai lemas.
“Kamu
hebat nak, kamu bisa mengalahkan mereka.” Kata ayah dengan bangga.
Kata Rifqi beberapa diantara mereka masih tinggal disini. Mereka tidak akan mengganggu malah mereka akan menjaga rumah ini.
Kami
semua bersyukur masih dapat hidup. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berterima kasih kepada Rifqi. Sungguh pengalaman
yang tak akan terlupakan…..
SELESAI
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
mantap
BalasHapus