Minggu, 21 Oktober 2012

Cerita Horor : Kost-Kostan Berdarah...



Sebelumnya perkenalkan namaku Salma. Aku merupakan seorang Mahasiswi disalah satu perguruan tinggi didaerah Bogor. Selama ini aku tinggal di Kos-Kosan milik Bu Rahma. Banyak kejadian diluar nalar atau tidak masuk akal disini. Inilah ceritaku…………
            Hari Minggu malam, beberapa penghuni Kos sudah pulang ke rumah asal mereka karena saat itu memang merupakan musim liburan. Hanya tinggal aku, Dhifa, dan Restu yang tetap tinggal disitu. Suasana disini memang tidak begitu bagus.
            Aku bergegas menuju kamar untuk mengambil handphone. Saat aku membuka pintu kamar, buku-buku yang ada dimeja jatuh berserakan.
            “Kok aneh, perasaan tadi udah ditata rapi diatas meja. Tapi kok sekarang berserakan lagi, ah mungkin tadi jatuh.”
            Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Pintu kamar yang semula terbuka menjadi tertutup seketika. Aku merasakan tidak hanya aku yang berada didalam kamar. Seperti ada sayup-sayup suara seperti orang menangis. Aku segera mencari sumber suara itu. Suara itu ternyata berasal dari arah sumur tua yang berada dibelakang halaman. Tiba-tiba ada yang memegang pundaku dari belakang. Dengan cepat aku menyerang.
            “Sal kamu apa-apaan sih, aku Restu temen baikmu yang paling unyu.” Kata Restu
            “Ya kamu ngagetin aku.”
            “Ya  udah kita ke ruang tengah yuk, horror banget tau disini.” Kata Restu
            Kami berdua berjalan menuju ruang tengah. Suara tangisan itu mulai muncul lagi.
            “Eh kamu denger suara orang nangis?” tanyaku kepada Restu
            “Engga, emang kenapa Sal?” Tanya Restu balik
            “Oh engga, lupakan.”
            Suara aneh itu semakin terdengar keras. Aku hanya terdiam dan sedikit takut. Ternyata Tomi, Aryo dan Putra datang.
            “Tumben kalian dateng kesini.” Kata Dhifa.
            “Hehehe cuma mau nganterin Putra buat ketemu sama Restu.”kata Tomi
            “Eciehhhhhhhhh, ehem-ehem ada yang mau…..hahaha” kata Dhifa sembari ketawa
            “Ih apa-apaan sih kalian.” Kata Restu.
            Tiba-tiba terdengar suara meminta tolong yang berasal dari kamar Bapak Kos. Kami semua langsung berlari menuju kamar tersebut. Tampak bapak kos sedang berusaha membuka pintu kamarnya.
            “Pak ada apa ini?” tanyaku panik
            “Ibu..ibu…ibu ada didalem terkunci.” Jawab bapak kos
            “Pak kita dobrak saja.” Kata Aryo
            Akhirnya Aryo, Tomi, Putra dan Bapak kos mendobrak pintu kamar. “Krakk..” pintu berhasil terbuka. Tampak Ibu Kos berlumuran darah dan sudah tidak bernyawa lagi. Mulutnya sobek dan tangannya tersayat-sayat. Bapak Kos tampak menangis atas kepergian ibu kos.
            Diarah dapur Simbok menjerit histeris. Aku, Putra dan Dhifa lantas segera turun dan menuju dapur.
            “Ada apa mbok????” tanyaku dengan panik
            “Tadi ada orang mukanya rusak berat, kukunya hitam panjang, rambutnya panjang selutut yang mau mencekik simbok.” Jawab simbok yang sedang ketakutan
            “AAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaa……….” Aku berteriak keras
            “kenapa?” mereka semua bertanya kepadaku
            “Ada…ada…ada setan di deket tangga.” Jawabku dengan ketakutan
            “Ya udah sekarang kita berkumpul di ruang tengah, aku panggil yang diatas biar pada turun.” Kata Putra.
            Aku, Dhifa dan Simbok lantas menuju ke ruang tengah. Jarak ke ruang tengah terasa sangat jauh. Suara-suara aneh mulai muncul kembali. TV tiba-tiba menyala sendiri. Simbok menjerit dengan keras. Dipojokan ada sebuah kepala tanpa badan yang sedang bergelantungan.
            Aryo, Putra, Restu, Tomi, dan Bapak Kos akhirnya tiba di ruang tengah. Mata bapak kos masih merah karena habis menangis . Kami semua takut. Vas bunga yang berada di meja terlempar kearah jendela. Buku-buku berterbangan. Darah berceceran dimana-mana. Lampu tiba-tiba mati .
            “Asli, aku takut banget. Terus kita harus gimana???” tanya Restu dengan panik
            “Sekarang kita berdo’a menurut agama dan kepercayaan masing-masing.” Kata Aryo
            Seketika ada yang menarik tubuh Putra kearah Dapur. Putra berusaha melepaskan tubuhkan tersebut dari makhluk astral itu.
            “Putraaaaaaaaaa!!!!!!!!!!” teriak kami secara kencang
            Aryo dan Bapak kos lantas menuju dapur dan sisanya tetap berada diruang tengah. Tetapi………………
            “Ya Tuhan…………” kata Aryo
            “Kenapa nak Aryo?” tanya bapak kos
            “Putra sudah meninggal.” Kata Aryo
            Tubuh Putra sudah tak karuan. Matanya hilang, kakinya tersumpal dimulut dan kakinya ada bekas sayatan. Aryo dan Bapak kos segera menuju keruang tengah. Mereka semua tampak sedang menangis.
            “Sal, kamu kan indigo yang bisa liat masa lalu kan?” tanya Dhifa
            “Iya…terus aku kudu piye” kataku
            “Nah sekarang kamu pegang salah satu tembok!” perintah Dhifa
            Aku langsung memegang sebuah tembok tua yang berada tepat didekatku. Aku mulai berkonsentrasi dan akhirnya berhasil. Aku dapat melihat masa lalu dari rumah ini.
            “Dahulu pemilik rumah ini merupakan orang kaya. Tetapi dengan cara yang salah. Ia mempunyai ‘pegangan’ berupa sesosok makhluk astral yang akan mencari tumbal dirumah ini. Tetapi seluruh keluarga pemilik rumah ini yang malah menjadi korban tumbal dari makhluk itu. Hingga pada suatu hari Bapak dan Ibu kos membeli rumah itu untuk digunakan kos-kosan. Kehadiran mereka lantas sangat mengganggu bagi si makhluk itu. Anak bapak dan ibu kos menjadi salah satu korbannya. Dan akhirnya Ibu kos dan Putra menjadi korbannya juga. Simbok hampir menjadi korban.”
            Kejadian itu terlintas dipikiranku dan akhirnya aku bercerita kepada mereka.
            “Eh sumpah aku jadi parno gini.” Kata Tomi ketakutan
            “Pasti diantara kita akan ada yang menjadi korban selanjutnya.” Kata Restu
            “Kita semua harus bisa keluar dari rumah ini. Jangan sampai diantara kita ada yang menjadi korban lagi.” Kataku
            “Sekarang kita harus pergi keluar rumah. Lariiiiiiiiii……!!!” Perintah Aryo.
            Akhirnya kami semua lari ke depan pintu. Tetapi pintu tidak bisa terbuka. Aryo, Tomi dan Bapak kos berusaha membuka pintu tetapi tetap tidak bisa. Kami lalu berlari menuju pintu belakang yang masih terbuka lebar. Suasana semakin mencekam. Kami berlari sekuat tenaga untuk menuju pintu gerbang dengan melewati halaman belakang.
            Restu melihat Putra yang sedang meminta tolong didekat sumur tua. Bukankah Putra sudah meninggal? Kenapa dia ada didekat sumur tua? Pikirku.
            “Aku harus menolong Putra sekarang.” Kata Restu yang langsung berlari menuju sumur tua itu.
            “Restuuuuu dia bukan Putra. Putra sudah meninggal. Jangan kesanaa.!”teriak Dhifa
            Restu tidak mempedulikan kami. Ia terus berusaha berlari menuju Putra. Kami semua terus berlari menuju gerbang. Tiba-tiba terdengar suara teriakan.
            “Suara ituu….”
            “Suara itu seperti suara Restu….” Kata Dhifa yang terus menangis.
            “Biarkan saja, dia sudah memilih.” Kata Tomi.
            Makhluk jahat yang tepat berada dibelakang kami berhasil mencekik diriku. Aku sekuat tenaga meminta tolong. Aryo memukul makhluk itu menggunakan kayu yang ada didekatnya. Bapak Kos berusaha menarikku dari makhluk itu. Aryo terlempar hingga terkena pagar. Bapak Kos berhasil menarikku dari makhluk jahat itu. Tetapi malah Bapak kos yang gantian dicekik. Bapak Kos berteriak meminta tolong. Aku dan Dhifa berusaha menarik Bapak Kos.
            “Su..sudah kakalian pergi dari sisini sasaja, bibiar saya yayang menguurusi didia..” kata Bapak kos yang tampak kesakitan.
            “Tapi..tapi…Pak…” kata Dhifa
            “Susudah cepat pepergi, hihidup kakalian massih panpanjang….” Kata Bapak Kos
            Aku, Dhifa dan simbok berlari menuju pagar. Aryo dan Tomi terlihat sedang mendorong pagar dengan sisa tenaganya.
“Pagernya engga bisa dibuka. Terus gimana?” tanya Tomi
            “Naik pager aja gimana?” usul Dhifa
            “Simbok pake jarik, engga bisa lah. Huhuhu” kata Simbok yang terus menangis
            “Copot aja jariknya mbok.” Kata Aryo
            “Ih jorok deh pikirannya.” Kataku
            “Dari pada mati konyol disini, Simbok copot jariknya. Tapi kalian jangan liat kesini.” Kata Simbok.
            “Ya udah cepat naik, jangan sia-siakan pengorbanan bapak kos.” kataku
            Akhirnya satu persatu berhasil keluar gerbang. Hanya tinggal Tomi yang dibelakang.
            “Tom ayo cepat, dia udah dibelakang kita.” Teriak Aryo
            “Bentar, susah banget naiknya.” Kata Tomi
            Tapi naas, Tomi malah diterkam oleh makhluk astral jahat. Kami semua berlari menuju jalan raya. Dengan susah payah kami semua berlari. Hanya tinggal aku, Dhifa, Simbok dan Aryo  yang masih hidup. Aku bersyukur mimpi buruk itu sudah berlalu. Tetapi aku kehilangan orang-orang terdekat dan baik terhadapku. Aku berdo’a semoga kalian tenang dialam sana.
…....................................................................

7 Bulan Kemudian
  “Te sate….satenya setenya taiye.”
            Seorang penjual sate sedang berkeliling untuk menjajakan dagangannya. Udara terasa sangat dingin. Angin bertiup sangat kencang. Seorang perempuan cantik keluar dari rumah dan membeli sate.
            “Bang beli sate dong, tapi satenya nanti diantar kedalam ya, habis disini dingin banget.” Kata perempuan itu.
            “Siap….”kata penjual sate.
            Akhirnya sate sudah matang. Penjual sate itu lalu mengantarkan kedalam rumah. Perasaannya mulai aneh.
            “Hallo…ada orang dirumah???” tanya penjual sate itu
            Tidak ada jawaban apapun dari dalam rumah itu. Penjual sate terus masuk kedalam rumah itu. Tiba-tiba ada yang menerkam dari belakang. Penjual sate itu berteriak meminta tolong dan akhirnya meninggal seketika dengan muka berlumuran darahhhh…………

SELESAI

 Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
           
           


1 komentar: