Sebelumnya perkenalkan namaku Salma.
Aku merupakan seorang Mahasiswi disalah satu perguruan tinggi didaerah Bogor.
Selama ini aku tinggal di Kos-Kosan milik Bu Rahma. Banyak kejadian diluar
nalar atau tidak masuk akal disini. Inilah ceritaku…………
Hari
Minggu malam, beberapa penghuni Kos sudah pulang ke rumah asal mereka karena
saat itu memang merupakan musim liburan. Hanya tinggal aku, Dhifa, dan Restu yang
tetap tinggal disitu. Suasana disini memang tidak begitu bagus.
Aku
bergegas menuju kamar untuk mengambil handphone. Saat aku membuka pintu kamar,
buku-buku yang ada dimeja jatuh berserakan.
“Kok
aneh, perasaan tadi udah ditata rapi diatas meja. Tapi kok sekarang berserakan
lagi, ah mungkin tadi jatuh.”
Tiba-tiba
angin berhembus dengan kencang. Pintu kamar yang semula terbuka menjadi
tertutup seketika. Aku merasakan tidak hanya aku yang berada didalam kamar.
Seperti ada sayup-sayup suara seperti orang menangis. Aku segera mencari sumber
suara itu. Suara itu ternyata berasal dari arah sumur tua yang berada
dibelakang halaman. Tiba-tiba ada yang memegang pundaku dari belakang. Dengan
cepat aku menyerang.
“Sal
kamu apa-apaan sih, aku Restu temen baikmu yang paling unyu.” Kata Restu
“Ya
kamu ngagetin aku.”
“Ya udah kita ke ruang tengah yuk, horror banget
tau disini.” Kata Restu
Kami
berdua berjalan menuju ruang tengah. Suara tangisan itu mulai muncul lagi.
“Eh
kamu denger suara orang nangis?” tanyaku kepada Restu
“Engga,
emang kenapa Sal?” Tanya Restu balik
“Oh
engga, lupakan.”
Suara
aneh itu semakin terdengar keras. Aku hanya terdiam dan sedikit takut. Ternyata
Tomi, Aryo dan Putra datang.
“Tumben
kalian dateng kesini.” Kata Dhifa.
“Hehehe
cuma mau nganterin Putra buat ketemu sama Restu.”kata Tomi
“Eciehhhhhhhhh,
ehem-ehem ada yang mau…..hahaha” kata Dhifa sembari ketawa
“Ih
apa-apaan sih kalian.” Kata Restu.
Tiba-tiba
terdengar suara meminta tolong yang berasal dari kamar Bapak Kos. Kami semua
langsung berlari menuju kamar tersebut. Tampak bapak kos sedang berusaha
membuka pintu kamarnya.
“Pak
ada apa ini?” tanyaku panik
“Ibu..ibu…ibu
ada didalem terkunci.” Jawab bapak kos
“Pak
kita dobrak saja.” Kata Aryo
Akhirnya
Aryo, Tomi, Putra dan Bapak kos mendobrak pintu kamar. “Krakk..” pintu berhasil
terbuka. Tampak Ibu Kos berlumuran darah dan sudah tidak bernyawa lagi.
Mulutnya sobek dan tangannya tersayat-sayat. Bapak Kos tampak menangis atas
kepergian ibu kos.
Diarah
dapur Simbok menjerit histeris. Aku, Putra dan Dhifa lantas segera turun dan menuju
dapur.
“Ada
apa mbok????” tanyaku dengan panik
“Tadi
ada orang mukanya rusak berat, kukunya hitam panjang, rambutnya panjang selutut
yang mau mencekik simbok.” Jawab simbok yang sedang ketakutan
“AAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaa……….”
Aku berteriak keras
“kenapa?”
mereka semua bertanya kepadaku
“Ada…ada…ada
setan di deket tangga.” Jawabku dengan ketakutan
“Ya
udah sekarang kita berkumpul di ruang tengah, aku panggil yang diatas biar pada
turun.” Kata Putra.
Aku,
Dhifa dan Simbok lantas menuju ke ruang tengah. Jarak ke ruang tengah terasa
sangat jauh. Suara-suara aneh mulai muncul kembali. TV tiba-tiba menyala
sendiri. Simbok menjerit dengan keras. Dipojokan ada sebuah kepala tanpa badan yang
sedang bergelantungan.
Aryo,
Putra, Restu, Tomi, dan Bapak Kos akhirnya tiba di ruang tengah. Mata bapak kos
masih merah karena habis menangis . Kami semua takut. Vas bunga yang berada di
meja terlempar kearah jendela. Buku-buku berterbangan. Darah berceceran
dimana-mana. Lampu tiba-tiba mati .
“Asli,
aku takut banget. Terus kita harus gimana???” tanya Restu dengan panik
“Sekarang
kita berdo’a menurut agama dan kepercayaan masing-masing.” Kata Aryo
Seketika
ada yang menarik tubuh Putra kearah Dapur. Putra berusaha melepaskan tubuhkan
tersebut dari makhluk astral itu.
“Putraaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”
teriak kami secara kencang
Aryo
dan Bapak kos lantas menuju dapur dan sisanya tetap berada diruang tengah.
Tetapi………………
“Ya
Tuhan…………” kata Aryo
“Kenapa
nak Aryo?” tanya bapak kos
“Putra
sudah meninggal.” Kata Aryo
Tubuh Putra sudah tak karuan. Matanya hilang, kakinya tersumpal dimulut dan kakinya ada
bekas sayatan. Aryo dan Bapak kos segera menuju keruang tengah. Mereka semua
tampak sedang menangis.
“Sal,
kamu kan indigo yang bisa liat masa lalu kan?” tanya Dhifa
“Iya…terus
aku kudu piye” kataku
“Nah
sekarang kamu pegang salah satu tembok!” perintah Dhifa
Aku
langsung memegang sebuah tembok tua yang berada tepat didekatku. Aku mulai
berkonsentrasi dan akhirnya berhasil. Aku dapat melihat masa lalu dari rumah
ini.
“Dahulu
pemilik rumah ini merupakan orang kaya. Tetapi dengan cara yang salah. Ia
mempunyai ‘pegangan’ berupa sesosok makhluk astral yang akan mencari tumbal
dirumah ini. Tetapi seluruh keluarga pemilik rumah ini yang malah menjadi
korban tumbal dari makhluk itu. Hingga pada suatu hari Bapak dan Ibu kos
membeli rumah itu untuk digunakan kos-kosan. Kehadiran mereka lantas sangat
mengganggu bagi si makhluk itu. Anak bapak dan ibu kos menjadi salah satu
korbannya. Dan akhirnya Ibu kos dan Putra menjadi korbannya juga. Simbok hampir
menjadi korban.”
Kejadian
itu terlintas dipikiranku dan akhirnya aku bercerita kepada mereka.
“Eh
sumpah aku jadi parno gini.” Kata Tomi ketakutan
“Pasti
diantara kita akan ada yang menjadi korban selanjutnya.” Kata Restu
“Kita
semua harus bisa keluar dari rumah ini. Jangan sampai diantara kita ada yang menjadi
korban lagi.” Kataku
“Sekarang
kita harus pergi keluar rumah. Lariiiiiiiiii……!!!” Perintah Aryo.
Akhirnya
kami semua lari ke depan pintu. Tetapi pintu tidak bisa terbuka. Aryo, Tomi dan
Bapak kos berusaha membuka pintu tetapi tetap tidak bisa. Kami lalu berlari
menuju pintu belakang yang masih terbuka lebar. Suasana semakin mencekam. Kami
berlari sekuat tenaga untuk menuju pintu gerbang dengan melewati halaman
belakang.
Restu
melihat Putra yang sedang meminta tolong didekat sumur tua. Bukankah Putra
sudah meninggal? Kenapa dia ada didekat sumur tua? Pikirku.
“Aku
harus menolong Putra sekarang.” Kata Restu yang langsung berlari menuju sumur
tua itu.
“Restuuuuu
dia bukan Putra. Putra sudah meninggal. Jangan kesanaa.!”teriak Dhifa
Restu
tidak mempedulikan kami. Ia terus berusaha berlari menuju Putra. Kami semua
terus berlari menuju gerbang. Tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“Suara
ituu….”
“Suara
itu seperti suara Restu….” Kata Dhifa yang terus menangis.
“Biarkan
saja, dia sudah memilih.” Kata Tomi.
Makhluk
jahat yang tepat berada dibelakang kami berhasil mencekik diriku. Aku sekuat
tenaga meminta tolong. Aryo memukul makhluk itu menggunakan kayu yang ada
didekatnya. Bapak Kos berusaha menarikku dari makhluk itu. Aryo terlempar
hingga terkena pagar. Bapak Kos berhasil menarikku dari makhluk jahat itu.
Tetapi malah Bapak kos yang gantian dicekik. Bapak Kos berteriak meminta
tolong. Aku dan Dhifa berusaha menarik Bapak Kos.
“Su..sudah
kakalian pergi dari sisini sasaja, bibiar saya yayang menguurusi didia..” kata
Bapak kos yang tampak kesakitan.
“Tapi..tapi…Pak…”
kata Dhifa
“Susudah
cepat pepergi, hihidup kakalian massih panpanjang….” Kata Bapak Kos
Aku,
Dhifa dan simbok berlari menuju pagar. Aryo dan Tomi terlihat sedang mendorong
pagar dengan sisa tenaganya.
“Pagernya
engga bisa dibuka. Terus gimana?” tanya Tomi
“Naik
pager aja gimana?” usul Dhifa
“Simbok
pake jarik, engga bisa lah. Huhuhu” kata Simbok yang terus menangis
“Copot
aja jariknya mbok.” Kata Aryo
“Ih
jorok deh pikirannya.” Kataku
“Dari
pada mati konyol disini, Simbok copot jariknya. Tapi kalian jangan liat
kesini.” Kata Simbok.
“Ya
udah cepat naik, jangan sia-siakan pengorbanan bapak kos.” kataku
Akhirnya
satu persatu berhasil keluar gerbang. Hanya tinggal Tomi yang dibelakang.
“Tom
ayo cepat, dia udah dibelakang kita.” Teriak Aryo
“Bentar,
susah banget naiknya.” Kata Tomi
Tapi
naas, Tomi malah diterkam oleh makhluk astral jahat. Kami semua berlari menuju
jalan raya. Dengan susah payah kami semua berlari. Hanya tinggal aku, Dhifa,
Simbok dan Aryo yang masih hidup. Aku
bersyukur mimpi buruk itu sudah berlalu. Tetapi aku kehilangan orang-orang terdekat
dan baik terhadapku. Aku berdo’a semoga kalian tenang dialam sana.
…....................................................................
7
Bulan Kemudian
“Te sate….satenya setenya taiye.”
Seorang
penjual sate sedang berkeliling untuk menjajakan dagangannya. Udara terasa sangat
dingin. Angin bertiup sangat kencang. Seorang perempuan cantik keluar dari
rumah dan membeli sate.
“Bang
beli sate dong, tapi satenya nanti diantar kedalam ya, habis disini dingin
banget.” Kata perempuan itu.
“Siap….”kata
penjual sate.
Akhirnya
sate sudah matang. Penjual sate itu lalu mengantarkan kedalam rumah.
Perasaannya mulai aneh.
“Hallo…ada
orang dirumah???” tanya penjual sate itu
Tidak
ada jawaban apapun dari dalam rumah itu. Penjual sate terus masuk kedalam rumah
itu. Tiba-tiba ada yang menerkam dari belakang. Penjual sate itu berteriak
meminta tolong dan akhirnya meninggal seketika dengan muka berlumuran darahhhh…………
SELESAI
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)
izin copas ya gan :D
BalasHapus