Sabtu, 27 Oktober 2012

Misteri 'Cinta Cuma Satu'



            Hari Senin yang cerah, tampak seorang  perempuan  sedang duduk  dikursi kelas. Perempuan  itu bernama Naya. Ia merupakan seorang pelajar kelas XI di SMA Pelita Indah. SMA Pelita Indah memang sudah terkenal angker.
            Beberapa menit kemudian Naya berjalan menuju Kantin untuk membeli makan. Tanpa sengaja ia menabrak seorang pelajar laki-laki yang  tidak ia kenal.
            “Eh maaf-maaf, aku udah nabrak kamu.” Kata Naya
            Pelajar laki-laki itu hanya tersenyum kecil dan berjalan menuju Kamar Mandi.
            “Aneh banget itu orang, biasanyakan kalau semua orang ditabrak pasti marah-marah.” Kata Naya dalam hati
            Naya melanjutkan langkahnya menuju Kantin. Ditengah perjalanan ia bertemu dengan Nabilah, salah satu sahabatnya.
            “Mau kemana Nay?” tanya Nabilah
            “Mau ke Kantin, ikut yuk.” Jawab Naya
            “Oke, tapi traktir makan Baso ya hehehe.” Kata Nabilah dengan tingkah lucunya
            “Gampang, bisa diatur.” Kata Naya
            Naya dan Nabilah lalu berjalan menuju Kantin. Beberapa saat kemudian mereka sampai di Kantin dan langsung membeli Baso Mang Udjo kesukaan mereka. Naya melihat laki-laki yang ia tabrak tadi disudut kantin.
            “Woy..woy…Liatin apa sih sampe segitunya?” tanya Nabilah
            “Oh engga papa, cuman  heran aja sama cowok yang ada dipojok itu. Tadi aku nabrak dia tapi malah engga marah, sekarang dikantin cuma diam tanpa kata kayak begitu.” Jawab Naya
            “Orang yang mana sih????” tanya Nabilah dengan penasaran
            “Itu yang ada dipojokan.” Jawab Naya
            “Kamu baru konslet ya, orang dipojokan sana engga ada orang. Adanya cuman Joni yang giginya dipager terus matanya ada empat. Masa heran sama dia. Matamu agak eror kaliye?” tanya Nabilah
            “Bukan Joni, itu yang ada dipojokan.” Jawab Naya kesal
            Tiba-tiba Gusti dan Andro datang menemui mereka.
            “Woy ada apa woy, kok kalian ribut?” tanya  Gusti
            “Naya heran sama cowok dipojokan sana.” Jawab Nabilah
            “Si Joni? Emangnya kenapa?” tanya Andro
            “Masa heran sama Joni, emang dia aneh tau.” Kata Gusti
            “Bukan… ah lupakan.” Kata Naya
            Naya masih bingung kenapa sahabatnya tidak melihat ada cowok dipojokan sana. Tiba-tiba ada suara jeritan dari arah Lab.IPA.  Mereka semua lalu berlari menuju sumber suara itu. Tampak Nayla sedang berterik histeris.
            “Kamu kenapa?” tanya Naya
            “Tadi ada laki-laki wajahnya rusak berdiri di depan sana. Disana juga ada tulisan Cinta Cuma Satu ” Jawab Nayla dengan nafas yang tak karuan.
            Tiba-tiba segerombolan Guru datang menuju Lab.
            “Sudah-sudah sekarang kalian cepat keluar dari ruangan ini.” Kata Bu Vidya, seorang guru pendamping IPA disekolah Naya.
             Mereka semua lalu meninggalkan ruangan itu. Beberapa siswa membicarakan tentang hal yang sama yaitu hantu yang ada di Lab Kimia berwujud laki-laki berwajah seram setelah kejadian tadi. Naya mulai penasaran dengan hali itu.
            “Eh kalian percaya gak sih sama kabar hantu yang ada di Lab?” tanya Naya
            “Selama aku belum ketemu sama dia aku engga percaya.” Jawab Gusti
            “Ih amit-amit ketemu hantu. Bisa-bisa aku ngompol dicelana oh tidak bisa.” Kata Nabilah
            “Lebay ah kamu hahaha.” Kata Naya dan  Andro
            Bel pelajaran mulai berbunyi. Seluruh siswa memasuki ruangan kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Naya, Nabilah, Andro, Gusti dan murid yang lain berjalan menuju Lab IPA karena memang sekarang memang jam pelajaran IPA.
            “Eh sumpah aku parno banget. Takut ketemu hantu.” Kata Nabilah
            “Yaampun, berdo’a aja biar ga ketemu.” Kata Naya
            Dibelakang tampak Bu Vidya berlari menuju Naya, Nabilah dan yang lain.
            “Pelajaran hari ini pindah kekelas kalian akibat ada masalah tadi.” Kata Bu Vidya
            Mereka semua lalu berbalik arah menuju kelas. Di kelas, Naya semakin penasaran dengan hantu yang ada disekolah. Ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Bu Vidya.
            “Bu, benarkah di Lab IPA ada hantunya?” tanya Naya
            “Sudah, kalian ini disini belajar, jangan bertanya yang aneh-aneh.” Kata Bu Vidya dengan sikap yang aneh.
            “Tapi bu….”
            “Sudah jangan bicarakan itu lagi.!” Kata Bu Vidya dengan kasar.
            Tiba-tiba Nabilah berteriak histeris. Semua menoleh kearah Nabilah. Tampak wajah Nabilah sengaja ditutupi dengan tasnya.
            “Sttt kamu kenapa sih teriak gak jelas begitu?” tanya Bu Vidya
            “Dibelakang itu ada hantu yang mukanya serem abis, ngalahin seremnya Pak Kepsek.” Jawab Nabilah.
            “Yasudah sekarang kamu ikut saya.” Kata Bu Vidya
            “Mau ngapain bu? Saya engga mau kalau disuruh bersihin kamar mandi lagi.” Kata Nabilah
            “Huss sekarang ikut ibu. Yang lain kerjakan tugas halaman 108.” Kata Bu Vidya
            Beberapa jam kemudian bel sekolah berbunyi. Kami semua lalu bergegas untuk pulang. Naya, Andro dan Gusti tidak langsung pulang melainkan mencari Nabilah diruang BK. Dan akhirnya ketemu juga dengan Nabilah.
            “Kamu tadi diapain?” Tanya Gusti
            “Cuma ditanyain wajah hantunya tadi sama letaknya dimana terus ada tulisan 'Cinta Cuma Satu'.” Jawab Nabilah
            “Ya udah sekarang kita kerumahku aja, aku masih penasaran sama itu hantu.” Kata Naya
            Mereka semua langsung pulang dan menuju Rumah Naya.
            Ditempat lain, Bu Vidya menemukan setangkai mawar merah dimejanya dan sebuah tulisan “Cinta Cuma Satu”.
            “Dari siapa lagi ini? Dari dulu ada terus. Ah mungkin cuman dari murid yang ngasih ini biar dapet  nilainya bagus.” Kata Bu Vidya yang sedang membuah bunga dan tulisan itu.
            Dirumah Naya, mereka semua masih heran dengan hantu di Lab tersebut.
            “Tadi kamu liat hantunya dimana?” tanya Gusti
            “Persis dibelakang Bu Vidya. Mukanya ancur banget sumpah .” jawab Nabilah
            “Bentar-bentar, hantunya ada dibelakang Bu Vidya. Nah tadi aku tanya sama Nayla hantunya juga persis dibelakang bu Vidya seperti  ngikutin gitu lah.” Kata Naya
            “Ada yang engga beres nih.” Kata Andro
            “Mau ngga, ntar malem kita ke Sekolah buat buktiin itu semua?” tanya Naya
            “Oke aku berani.” Kata Gusti
            “Aku juga.” Kata Andro
            “Aduh aduh aduh, makasih deh aku engga mau.” Kata Nabilah
            “Gini aja, kamu sama Andro nunggu dideket rumah Bu Vidya, takutnya nanti terjadi apa-apa.” Kata Naya
            “Oke.” Kata Andro dan Nabilah
            Adzan Isya’ mulai berkumandang . Naya dan Gusti telah berada didepan pintu gerbang sekolah.
            “Nay, ada satpam. Pasti kita engga diizinin masuk. Terus gimana?” Tanya Gusti
            “Tenang, kalau sama Naya semua beres.” Jawab Naya.
            Naya dan Gusti lalu berjalan menuju Pos Satpam.
            “Pak saya mau ngambil Handphone saya yang ketinggalan di kelas. Boleh ya pak? Soalnya orang tua saya mau menelpon, boleh ya?” Tanya Naya
            “Hmmmmm gimana ya. Ya udah saya kasih ijin buat masuk.” Jawab Pak Satpam
            Naya dan Gusti bukan menuju kelas melainkan menuju Perpustakaan. Mereka mencari buku tahunan yang menyangkut Bu Vidya karena memang Bu Vidya alumni SMA Pelita Indah. Setelah beberapa lama mencari akhirnya ketemu juga.
            “Yaampun bu Vidya waktu SMA lucu banget.” Kata Gusti
            “Husss, eh bentar ini kan orang yang aku tabrak dan aku liat di Kantin ternyata namanya Joko. Tapi kok tulisannya di sini ‘Rest In Peace’.  Berarti dia udah….”
            Tiba-tiba ada sebuah lemparan buku dari arah kanan. Naya dan Gusti langsung berlari menuju pintu Perpustakaan. Sesosok hantu mulai muncul diarea situ.
            “Ha..ha…hantu…” teriak Naya
            Sebuah suara lirih terdengar ditelingan Naya dan Gusti  “Cinta Cuma Satu”
Meraka lalu berlari kembali menuju Pos Satpam. Setelah sampai di Pos Satpam, handphone Gusti berbunyi. Ternyata telepon itu berasal dari Nabilah dan langsung mengangkatnya.
            “Halo, Gusti?”
            “Iya aku sendiri, ada apa?”
            “Bu Vidya menangis terus, Andro lagi menenangkan Bu Vidya. Sekarang Bu Vidya minta suruh anterin ke sekolah. Kamu masih disanakan?”
            “Masih, aku tunggu tapi cepet ya.”
            Telepon akhirnya ditutup. Gusti Nampak cemas .
            “Ada apa Ti?” tanya Naya
            “Tadi Nabilah telepon, kalau Bu Vidya minta suruh anterin ke Sekolah.” Jawab Gusti
            Beberapa saat kemudian Andro, Nabilah dan Bu Vidya tiba di Sekolah. Bu Vidya berlari menuju lapangan sekolah.
            “Tunggu Bu…” kata Andro
            Naya, Gusti, Nabliah dan Andro lalu berlari menyusul Bu Vidya. Di Lapangan sesosok hantu yang kami lihat tampak sedang  cerita….
            “Dahulu, kita bersahabat. Suka duka kita lewati bersama. Tetapi saat aku menembak kamu, kenapa tidak kamu terima? Apakah kamu tau penyebab asli dari kematianku? Penyebab utamanya adalah Jorgi dan kelompoknya membunuh aku saat aku sedang berada di Laboraturium IPA. Mereka menyiram cairan berbahaya dan mengenai bagian wajahku. Aku berteriak kesakitan tetapi tidak ada yang mendengarku karena saat itu sedang sepi. Mereka menambah cairan dan dan langsung membunuhku. Untuk menghilangkan jejak mereka menaruh cairan itu ditanganku agar semua percaya bahwa aku melakukan tindakan bunuh diri. Jorgi melakukan semua ini karena ingin menjauhkanku dari  kamu. Saat itu juga aku akan memberikan setangkai mawar dan kata-kata ‘Cinta Cuma Satu’ kepada kamu tetapi hidupku tak berlangsung lama…”
            “Joko…Joko…Joko… maksudku tidak menerimamu karena aku takut akan kehilangan kamu. Aku sebenarnya mencintaimu hingga sekarang. Persahabatan itu selamanya tapi cinta kadang tak bisa segalanya… Joko… berarti selama ini yang memberiku bunga dan tulisan itu kamu bukan Jorgi.” Kata Bu Vidya yang menangis
            “Tetapi aku lega sekarang kamu sudah mengetahui penyebab aku meninggal dan kamu masih mencintaiku. Cinta Cuma Satu hanyalah kamu…. Selamat tinggal semua….sekarang aku bisa tenang dialam sana….”
            “Tidakkkkkkkk……Joko Joko jangan pergi…..”
            Wajah seram hantu itu berubah menjadi seorang laki-laki berwajah tampan. Tubuhnya berangsur-angsur menghilang. Mereka semua tergeletak lemas di Lapangan.
SELESAI

 Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar