Hai semua, perkenalkan nama saya
Nadia. Saya tinggal didaerah KotaGede, Yogyakarta. Berikut ini kisah saya.
Saat
itu saya masih kelas 3 SD, saya mempunyai teman yang bernama Vania dan Lidya.
Vania dan Lidya adalah saudara kandung yang tinggal disebelah rumahku. Setiap hari
kami bermain bersama, bernyanyi bersama dirumahku maupun dirumah Vania dan
Lidya.
“Vania,
mau engga kalau kita maen boneka-bonekaan dirumah aku?” tanyaku kepada Vania
“Mau
dong, tapi nanti Mama kamu marah engga?” tanya Vania
“Engga
kok. Eh Lidya diajak juga ya.” Kataku
“Iya.”
Kata Vania
Aku
melihat Lidya sedang belarian didekat pohon.
“Eh
adek, kesini dong. Kita diajakin main sama Nadia boneka-bonekaan di rumahnya.” Kata
Vania
“Ya
udah deh aku mau.” Kata Lidya
Kami
semua lalu berjalan menuju rumahku. Perlahan-lahan kami menaiki tangga rumah
untuk sampai dikamarku. Tetapi Vania dan Lidya terlihat takut ketika sedang
berada di tangga.
“Kamu
kenapa? Kok takut?” tanyaku
“Engga
kenapa-kenapa kok.” Jawab Vania yang hanya tersenyum kecil.
Setelah
sampai dikamar, aku mengambil boneka lalu bermain bersama mereka.
“Eh
kalian kok engga ambil bonekanya?” tanyaku
“Aku
engga mau mainan boneka.” Kata Lidya
“Ya
udah kita nyanyi-nyanyi aja ya?” tanyaku
“Ayo….”
Jawab mereka berdua
Kami
semua lalu bernyanyi bersama. Lagu Balonku ada Lima, Potong Bebek Angsa, dll
sudah kami nyanyikan bersama.
“Nadia….
Jangan berisik dong, sekarang kamu tidur aja ya dari pada berisik begitu.” Kata
Mama yang saat itu sedang berada dibawah
“Ya
udah Nadia tidur.” Kataku
“Yah
kamu udah disuruh tidur.” Kata Vania dengan raut wajah yang sedikit kecewa
“Kalian
tidur bareng sama aku aja.” Kataku
“Beneran?” tanya Vania
“Iya,
sekarang tidur yuk dari pada dimarahin Mama lagi.” Jawabku
Kami
bertiga akhirnya tidur bersama dalam satu tempat tidur. Beberapa jam kemudian
aku terbangun dari tidurku. Tetapi saat kulihat sekitar tempat tidurku, Vania dan
Lidya sudah tidak ada. Aku mencari mereka kemana-mana tetapi tetap tidak
ketemu. Lalu aku bertanya kepada Mama
“Mama,
tadi liat Vania sama Lidya ngga?” tanyaku
“Vania
sama Lidya siapa?” tanya Mama balik
“Itu
temen Nadia yang tinggal disebelah rumah.” Jawabku
“Kamu
ini aneh banget sih, orang disebelah rumah kita masih tanah lapang dan belum
berdiri rumah kok.” Kata Mama
“Engga,
itu ada rumah. Rumahnya bagus banget. Masa engga tau sih.” Kataku
Tiba-tiba
Vania dan Lidya berada disebelah Mama.
“Itu
dia Vania sama Lidya baru disamping mama.” Kataku
“Hah?
Orang disamping Mama engga ada siapa-siapa kok.” Kata Mama heran
“Itu
ada Vania sama Lidya lagi senyam senyum terus liatin Mama.” Kataku
Saat
itu aku heran sekali kenapa hanya aku yang bisa melihat Vidia dan Lidya. Aku lalu
pergi menuju kamar Kak Ilham untuk menanyakan apakah dia melihat mereka juga.
“Kakak,
kakak liat Vania sama Lidya engga dideket pintu?” tanyaku
“Emang
mereka siapa? Dimana?” tanya Kak Ilham balik
“Masa
engga tau sih, mereka itu temen-temennya Nadia dari dulu.” Kataku kesal
“Kakak
engga liat tuh.” Kata Kak Ilham
Aku
semakin kesal dan bertanya kepada Vania dan Lidya
“Kalian
ini sebenernya siapa sih kok mama sama kak Ilham engga bisa liat kalian.” Tanyaku
Tetapi
Vania dan Lidya hanya tersenyum saja.
“Kalian
ini ditanyain engga dijawab.” Kataku
“Nadia
sedang ngomong sama siapa?” tanya Mama
“Lagi
ngomong sama Vania dan Lidya ma, tapi mereka engga jawab.” Kataku tambah kesal
“Memangnya
mereka bentuknya seperti apa?” tanya Mama
“Ya
seperti kita ini tapi lebih putih.” Jawabku
“Umur
mereka berapa?” tanya Mama lagi
“Ya
seumuran sama Nadia.” Kataku dengan polosnya
Mama
yang menyadari keanehan dari diriku lalu membawa aku ketempat salah satu teman
Mama yang biasa aku panggil Tante Lilis.
“Loh
ada apa kok tumben datang kemari? Tanya Tante Lilis
“Ini
ada yang aneh sama Nadia. Coba Nadia ceritakan kepada Tante Lilis.” Kata Mama
“Kan
aku punya temen namanya Vania dan Lidya, aku sama mereka itu selalu bermain
bersama, kalau ada orang jahat yang bentuknya serem mereka juga selalu
melindungi aku, terus kalau kemana-mana mereka selalu ikut. Mereka sekarang
juga lagi didekernya Om-om kyai yang ada dibelakangnya tante.” Kataku
“Ohhh,
anakmu ini memang istimewa, engga perlu cemas dan takut.” Kata tante Lilis
“Maksudnya
istimewa?” tanya Mama
“Nadia
ini bisa melihat makhluk dari alam lain sama seperti saya, kedua anak itu
merupakan ‘pendamping’ dari Nadia. Apakah sebelumnya Nadia pernah mengalami
penyakit aneh?” tanya tante Lilis
“Pernah
sih, kata dokter dia sehat tapi badan Nadia panas dingin.” Kata Mama
“Ya
sudah, sekarang Nadia ikut tante ke deket kolam itu ya.” Kata tante Lilis
Aku,
Mama dan Tante Lilis lalu berjalan menuju kolam yang berada didekat rumah tante
Lilis. Betapa kagetnya aku saat itu, aku melihat ada sesosok perempuan sedang
duduk di pinggir kolam.
“Tante
tante, itu orang lagi ngapain kok duduk disitu?” tanyaku
“Engga
kenapa-kenapa kok, Nadia bisa liat kan?” tanya Tante Lilis balik
“Bisa
dong.” Jawabku
Tiba-tiba
aku melihat sekilas gambaran tentang Mama dipikiranku.
“Awas
mama nanti jatuh.” Teriakku
Beberapa
saat kemudian Mama terjatuh karena tersandung batu. Aku dan Tante Lilis lalu
menolongnya.
“Anak
kamu memang luar biasa, selain bisa melihat makhluk dari alam lain dia juga
bisa melihat masa depan.” Kata tante Lilis.
Terungkap
sudah bahwa aku ini mempunyai kemampuan untuk melihat makhluk lain dan mampu
melihat masa depan. Hari-hari berikutnya aku, Vania dan Lidya masih bermain
bersama layaknya manusia pada umumnya walaupun aku sering diejek gila karena
sering berbicara sendiri. Padahal saat itu aku sedang berbicara dengan makhluk
lain yang hidup berdampingan dengan kita.
Selesai…….
babyliss nano titanium flat iron flat iron | TITanium Art
BalasHapusThis high quality grade 23 titanium design stilletto titanium hammer is made with premium titanium damascus knives steel that offers depth and width for maximum maneuverability in a modern titanium mig 170 art style. titanium daith jewelry