Sabtu, 20 Oktober 2012

Cerita Horor : Misteri Penunggu Rumah



Perkenalkan nama saya Calista. Saya sudah mengalami beberapa hal kejadian ghaib yang sulit masuk akal. Inilah cerita saya…..
Beberapa hari lalu, Saya dan keluarga berpindah rumah dari Bekasi menuju Yogyakarta. Saya menempati rumah baru diujung gang yang sempit dan ‘Wingit’. Lokasi rumah saya memang aneh, seperti ‘Tusuk Sate’. Kalau dilihat dari depan memang rumahku yang baru sangat indah dan tampak normal seperti rumah yang lain. Tetapi jika sudah masuk kedalam suasana mencekam sudah mulai terasa. Beberapa hari kemudian, kejadian-kejadian aneh itu mulai menimpa diriku dan keluargaku.
Hari Minggu yang cerah, aku dan adikku yang bernama Rifqi membereskan rumah yang masih berantakan. Kardus-kardus berserakan dimana-mana akibat belum ditata dengan rapi. Aku membersihkan dan merapikan bagian kamar tidurku dan adikku. Tiba-tiba terdengar seperti suara tangisan anak kecil. Aku langsung pergi menuju tempat adikku.
“Dek kamu kenapa?” tanyaku kepada Rifqi.
“Ada apasih kak kok panik begitu?” jawab Rifqi
“Nah kamu barusan nangis kan?” tanyaku lagi.
“Engga kok, orang dari tadi aku engga nangis kok. Liat aja mataku engga merah kan.”
 Jawab adikku sembari memegang matanya.
“Iya sih, ya udah kakak tinggal lagi. Kalau ada apa-apa kamu ke kamar kakak ya.”
Aku masih bingung siapa yang menangis tadi. Suaranya memang seperti adikku. Tetapi setelah ditanya dia tidak menangis. Ah mungkin itu hanya imajinasiku saja. Segeralah aku membersihkan kamarku  lagi.
Setelah beberapa jam membersihkan kamar, aku beranjak untuk mandi. Saat itu jam menunjukan pukul 19.00 WIB. Aku membuka pintu kamar mandi, perasaanku sudah mulai tidak karuan. Aku merasakan tidak hanya aku yang berada ditempat itu. Bulu kudukku mulai merinding. Tiba-tiba ada sekelebat bayangan putih terbang dari arah ventilasi jendela. Aku langsung menjerit dengan kencang “Aaaaaaaaa………..”. Seisi rumah panik dan langsung menghampiriku.
“Calis, ada apa?” tanya Ayah
“Ada..ada…ada ada bayangan putih terbang dari ventilasi.” Jawabku dengan takut
“Bayangan apa sih? Orang ngga ada gitu.” Kata Ibu
“Ya sudah, sekarang balik ke kamar masing-masing. Nanti biar Ayah yang cari tau.”
Perasaan takut, bingung campur menjadi Satu. Engga mungkinkan aku salah liat. Yasudah kejadian tadi sudah aku lupakan. Hari semakin malam, aku beranjak menuju tempat tidurku. Tanpa kusadari aku menginjak genangan darah. Tiba-tiba dari kamar Rifqi terdengar suara jeritan yang keras. Aku, Ayah, Ibu dan Mbak Murni langsung pergi menuju kamar Rifqi.
“Rifqi kamu kenapa?” tanya Ayah
“Aku habis dicekik sama orang tinggi besar, badannya hitam, matanya merah, rambutnya panjang lebat.” Jawab Rifqi ketakutan
“Ayah, kayaknya dirumah ini ada yang engga beres. Tadi aku denger suara orang nangis, terus aku tadi liat ada bayangan hitam diventilasi dan sekarang Rifqi habis dicekik.” Kataku dengan sedikit takut.
“Sekarang kita berdo’a saja supaya tidak diganggu lagi.” Kata Ayah
Tepat dibelakang ibu, sosok makhluk astral itu muncul.
“Nah itu dia yang mencekik aku tadi. Dia lagi dibelakang ibu.”
Memang Rifqi mempunyai ‘Sixth Sense’ atau semacam Indra keenam yang kuat. Seisi rumah mulai panik.
“Den, Mbak Murni punya kenalan seorang Paranormal namanya Mas Mardi. Apa kita panggil dia saja?” tanya mbak Murni.
“Ya udah mbak, kamu telfon si Mas Mardi ” Jawab Ayah
Tanpa basa-basi mbak Murni langsung menelfon Mas Mardi. Sementara itu, semakin malam semakin banyak makhluk astral yang datang dari berbagai arah. Wajah ‘mereka’ pun juga tidak karuan alias rusak berat. Aku, Ayah, Ibu, Rifqi dan simbok berkumpul di ruang tamu
“Kakak, Rifqi liat ada kakek-kakek mukanya kayak ada saosnya dideket jendela. Rifqi juga liat ada kepala yang terbang dimana-mana.” Kata Rifqi
Bulu kudukku semakin merinding. Udara dirumah terasa sangat pengap sekali. Seketika ada yang menarik aku dari belakang. Aku berusaha untuk melepaskan tarikannya tersebut. Tapi sia-sia, kepalaku dibenturkan di meja oleh makhluk astral itu.
“Ayah, Ibu kak Calis dibenturin ke meja sama perempuan yang tangannya panjang itu.” Teriak Rifqi.
Ayah segera membantuku tapi malah dilempar kearah tangga. Rambut mbak Murni ditarik oleh sesosok yang katanya ‘Genderuwo’. Kaki Ibu ditarik oleh dua makhluk yang berbadan seperti anak kecil tapi berwajah tua serta memiliki kuku yang panjang dan hitam. Kami semua berusaha melawan mereka. Tetapi setiap melawan pasti kami celaka.
Beberapa saat kemudian Mas Mardi datang kerumah.
“Mas Mardi genteng, tolong kami semua dong. Kamu engga mau kan kalau si Cantikmu ini kena apa-apa.” Kata Mbak Marni dengan genitnya.
Dengan sok berani Mas Mardi melawan makhluk astral. Tetapi ia malah lari ketakutan,
“Mas…mas tungguuuu….” Teriak ibu dengan sekuat tenaga.
“Aduh terus siapa yang akan membantu melepaskan dari mereka??” tanya Ayah.
“Rifqi. Iya bener Rifqi. Dia kan bisa berkomunikasi dengan mereka. Coba sekarang Rifqi ngomong ke mereka supaya pergi dari sini.” Kataku
“Iya bener. Ayo sekarang cepat, ibu udah engga kuat menahan mereka.” Kata Ibu
“Tapi mereka terlalu banyak.” Kata Rifqi
“Sekarang Rifqi coba, pertama berdo’a dulu dan fokuskan pikiran kemereka.” Kata Ayah.
Rifqi berusaha berdo’a dan berbicara dengan mereka.
“Sebenarnya kalian mau apa datang kesini? Keluarga Rifqi kan engga punya salah sama kalian?” tanya Rifqi.
“Kami hanya ingin tinggal disini. Gara-gara kalian kami semua diusir dari tempat ini. Kami penunggu rumah ini. Sekarang kami mau menuntut balas kepada kalian.” Jawab salah satu makhluk astral
“Tapi kalian masih bisa tinggal ditempat lain kan?”
“Tidak bisa, sudah lama kami semua tinggal di tempat ini!” bentak sesosok makhluk astral lalu mendorong Rifqi.
“Rifqi!!!!” teriak kami semua.
“Rifqi tetap fokus!!!!!” teriak Ayah
            “Tolong kalian semua pergi dari sini!!!!!!!!!!” kata Rifqi.
            Kretek,Krompyang,Byarrrrrr Jedar Jedorrrrrrrrrrrrrrr…… seisi rumah tampak porak poranda. Rifqi masih berusaha untuk mengusir mereka.Sementara Mbak Murni menangis dengan keras karena takut. Diatap rumah terdengar seperti suara ledakan kembang api dengan keras. Aku hanya berdo’a agar kami semua selamat menghadapi malam yang suram ini.
           Sempat terlintas dipikiranku kalau aku tidak bisa bertahan hidup. Ibu dan Mbak Murni mulai lemas.
“Kamu hebat nak, kamu bisa mengalahkan mereka.” Kata ayah dengan bangga.
 Kata Rifqi beberapa diantara mereka masih tinggal disini. Mereka tidak akan mengganggu malah mereka akan menjaga rumah ini.
Kami semua bersyukur masih dapat hidup. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berterima kasih kepada Rifqi. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan…..

SELESAI

 Kalau mau COPAS ijin dulu oke :)

1 komentar: